Follow by Email

Terkenal Akan Mistisnya, Ternyata Kelor Memiliki Sejuta Khasiat - Portal Rimbawan

By On September 28, 2019


Portal Rimbawan - Kelor (Moringa oleifera Lam.) merupakan tanaman perdu yang berasal dari kaki gunung Himalaya, Asia Selatan dan timur laut Pakistan. Baru mulai diperkenalkan dan dibudidayakan hampir di seluruh belahan dunia, antara lain: Asia Tenggara, Afrika, Amerika Tengah, Amerika Selatan, dan Semenanjung Arab. Kelor merupakan tanaman tahunan. Kita hanya sekali menanam selanjutnya tinggal petik dan akan bertunas kembali. Makin sering dipetik makin lebat tunasnya. Kelor ini tanaman tahan banting.

Dapat tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi hingga ketinggian ±1000 mdpl, banyak ditanam sebagai tanaman pagar halaman rumah maupun ladang. Kelor tumbuh dalam bentuk pohon berumur panjang dengan tinggi 7-12m. Batang berkayu, tegak, berwarna putih kotor, kulit tipis, permukaan kasar, percabangan simpodial, arah cabang tegak atau miring, cenderung tumbuh lurus dan memanjang. Memiliki daun majemuk, bertangkai panjang, tersusun berselang-seling (alternate), beranak daun gasal, helai daun saat muda berwarna hijau muda setelah dewasa berwarna hijau tua, bentuk helai daun bulat telur, panjang 1-2 cm, tipis lemas, ujung dan pangkal tumbuh (obtusus), tepi rata, susunan pertulangan menyirip, permukaan atas dan bawah halus. Perbanyakan bisa secara generatif (biji) maupun vegetatif (stek). Kelor dapat tumbuh pada lingkungan yang berbeda serta tumbuh dengan baik pada suhu 25°C-35°C, tetapi mampu mentoleransi lingkungan dengan suhu 28°C.

Ada peribahasa yang mengatakan “Dunia Tak Selebar Daun Kelor” yang artinya dunia itu luas tidak sempit. Eittss, tapi kenapa dalam istilah tersebut yang dipilih adalah daun kelor? Padahal kelor bukan merupakan tumbuhan yang memiliki daun terkecil. Ternyata karena khasiatnya. Walaupun mitos yang berkembang di masyarakat kelor termaksud tumbuhan yang mistis bahkan oleh suku jawa digunakan untuk memandikan mayat, khasiat dari pohon ajaib ini tak bisa dipandang sebelah mata. Hampir semua bagian pada pohon kelor dapat dimanfaatkan. Pohon ini dikenal dengan kandungan gizi tinggi. Bahkan atlet dunia sekelas Maradona pun rutin mengkonsumsi daun kelor agar mereka tetap tahan berlari mengejar bola hingga 90 menit.

Prinsip mengkonsumsi daun kelor adalah memasukan seluruh nutrisi yang terkandung didalamnya kedalam tubuh kita, sehingga memperoleh manfaat dan khasiat obat, sebagaimana manfaat dan khasiat nutrisi alami yang terkandung didalamnya, yaitu 92 nutrisi, 48 antioksidan, 48 asam amino, 36 anti-inflamasi, multi-vitamin, mineral dan senyawa alami lainnya yang diperlukan oleh tubuh.

Berdasarkan uji lab. yang pernah dilakukan, serbuk daun kelor mengandung : Protein (26,3 %), Lemak (6,57 %), Karbohidrat (48,4 %), Serat makanan (31,14%), Energi (358 Kal/100 gram). Mineral : Kalsium (Ca), Natrium (Na), Kalium (K) Magnesium (Mg), Fosfor (P), Besi (Fe), Tembaga (Cu), Seng (Zn), mangan (Mn), Selenium (Se), Kromium (Cr). Vitamin : Vitamin A (beta carotene), Vitamin B1 (Thiamine), Vitamin B2 (Riboflavin), Vitamin B3 (Niacin), Vitamin B6 (Pyridoxine), Vitamin B7 (Biotin), Vitamin C (Ascorbic Acid), Vitamin D (Cholecalciferol), Vitamin E (Tocopherol) dan Vitamin K.

Bukan hanya banyak tetapi jumlah kandungannya bahkan sampai mengalahkan beberapa buah, sayur dan bahan yang sudah terkenal dan biasa dikonsumsi antara lain : Kandungan Potassiumnya 3x lebih banyak dari pisang, Vitamin A 4x lebih banyak dari wortel, Zat besi 25x lebih banyak dari bayam, Vitamin C 7x dari jeruk, Kalsium 4x lebih banyak dari susu dan protein 2x lebih banyak dari yogurt.

Kitab Pengobatan Kuno India menyebutkan bahwa Kelor dapat mengatasi lebih dari 300 penyakit. Tapi, kali ini kita akan bahas sebagian saja ya. Antara lain sebagai berikut :

DAUN KELOR DAPAT MENURUNKAN KADAR KOLESTEROL JAHAT DALAM TUBUH
Ekstrak daun kelor ini bisa menurunkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh karena kandungan obat di dalamnya sebanding dengan obat atenolol yang dieksperimenkan untuk menurunkan kadar lemak pada mice atau tikus. Saat ini penelitian terus dilakukan karena terkait adanya kandungan senyawa bioaktif yaitu i2 sitosterol. Ekstrak daun kelor ini sekarang sudah ada yang memasarkan dalam bentuk serbuk, pil dan dalam bentuk teh celup. Kelor telah lama digunakan dalam tradisi medis Ayurvedic dari India untuk memerangi penyakit kardiovaskular dan obesitas atau kegemukan.

MANFAAT DAUN KELOR UNTUK MENGOBATI KANKER
Sebuah penelitian pernah dipublikasikan dalam jurnal Oncology Letters dan menyebutkan manfaat daun kelor bagi kesehatan, terutama mengobati kanker.  Daun kelor yang sudah diekstrak, yang telah larut dalam air bisa mengobati kanker secara alami. Adapun kanker yang bisa diobati dengan daun kelor mulai dari kanker payudara, kanker paru, hingga kanker kulit. Hal tersebut dikarenakan daun kelor kaya akan antioksidan, protein, karotenoid, potasium, dan senyawa lain yang bisa menangkal radikal bebas serta pertumbuhan sel kanker.

DAUN KELOR DAPAT MENURUNKAN KADAR GULA
Dari sebuah hasil penelitian yang dilakukan di Mumbai, India, dikatakan khasiat daun kelor olahan, baik berupa teh ataupun sayur bisa menurunkan kadar glukosa darah secara signifikan. Hal tersebut terjadi akibat pemberian obat glibenclamide yang berfungsi untuk meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pankreas. Tak heran, jika banyak orang di India yang menggunakan daun kelor sebagai obat herbal dalam menurunkan kadar gula. Sebuah penelitian tahun 2014 yang diterbitkan di Acta Histochemica juga menyatakan bahwa penurunan kadar gula darah bisa dipertimbangkan sebagai manfaat biji kelor, yang terutama baik bagi orang-orang diabetes. Namun, penelitian ini hanya dilakukan sebatas pada tikus lab dan belum dibuktikan khasiatnya pada manusia. Akan tetapi, sejauh ini hasilnya menjanjikan. Baiknya Anda konsultasikan dulu ke dokter sebelum menggunakan biji kelor untuk mengendalikan gejala diabetes Anda.

DAUN KELOR UNTUK MENYEHATKAN MATA
Daun kelor juga bermanfaat untuk menyehatkan mata. Fakta menunjukkan bahwa daun kelor memiliki kandungan vitamin A yang tinggi. Disebutkan dalam 100 gram daun kelor terdapat 3390 SI vitamin A. Tentunya jumlah tersebut jauh lebih tinggi bila dibandingkan wortel.

MENURUNKAN TEKANAN DARAH
Tensi darah tinggi yang tidak terkendali dapat berujung pada masalah jantung serius, seperti stroke dan serangan jantung. Menurunkan tekanan darah adalah salah satu manfaat biji kelor yang paling dikenal. Anda bisa merebus biji kelor dan minum airnya secara rutin.

MEMBUAT TIDUR LEBIH NYENYAK DAN MENINGKATKAN ENERGI
Untuk Anda yang sulit tidur nyenyak, tak ada salahnya untuk minum air rebusan biji kelor 1 jam sebelum waktunya Anda tidur. Selain bisa membantu Anda tidur nyenyak, rebusan kelor ini bisa membuat tubuh lebih berenergi keesokan paginya. Pasalnya, segenggam biji kelor mengandung tiga kali lipat kadar zat besi dari daun bayam. Ini jugalah yang membuat manfaat biji kelor baik untuk orang-orang yang memiliki anemia defisiensi besi. Tubuh membutuhkan asupan cukup zat besi untuk memproduksi dan membawa sel darah merah beroksigen ke otot, organ, dan jaringan tubuh lainnya.

KELOR SEBAGAI ANTIMIKROBA
Ekstrak daun dan biji dari tanaman kelor mengandung senyawa yang memiliki sifat anti-bakteri artinya dapat digunakan sebagai obat infeksi. Menurut sebuah penelitian pada Juni 2010 “Bayero Journal of Pure and Applied Sciences” ekstrak daun kelor dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme penyebab penyakit seperti Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, Enterobacter aerogenes dan Escherichia coli. Sedangkan manfaat ekstrak biji kelor hanya efektif terhadap E.coli dan Salmonella typhimurium, tapi hebatnya Ekstrak biji dapat mencegah pertumbuhan jamur – Mucor dan Rhizopus.

DAUN KELOR BAGUS UNTUK IBU MENYUSUI
Dari sekian banyak hasil penelitian tersebut disebutkan bahwa ibu menyusui membutuhkan gizi yang cukup agar kesehatan bayi tetap terjaga. Mengonsumsi daun kelor sangat disarankan untuk ibu menyusui yang memerlukan asupan zat besi yang cukup. Selain itu, daun kelor juga baik untuk wanita yang mengalami anemia karena datang bulan. Kandungan zat besi daun kelor sangat tinggi sehingga dapat membantu memulihkan gejala kurang darah. Namun, perlu diingat bahwa daun kelor tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi oleh ibu hamil.

Selain Dari Segi Kesehatan Daun Kelor Memiliki Banyak Manfaat Untuk Kecantikan Antara Lain :

ANTIOKSIDAN
Gunakan setelah anda bekerja seharian,masker diamkan 15 hingga 30 menit, kemudian bilas dengan air hangat. Untuk hasil maksimal, lakukan lagi sebelum anda tidur di malam hari.

MENGATASI JERAWAT
Bubuk daun kelor tambahkan madu atau buah naga. Biarkan hingga 30 menit. Lakukan dua hari sekali selama 30 hari, maka jerawat anda yang membandel akan hilang tanpa bekas.

HILANGKAN FLEK HITAM
Bubuk daun kelor Tambahkan madu/ temulawak untuk hasil lebih maksimal.

MENGANGKAT SEL KULIT MATI
gunakan dipermukaan yang ingin kalian angkat daki nya dan atau kulit matinya.

MENGATASI KULIT BERMINYAK
Kulit berminyak berdasarkan riset yang ada, dapat diatasi dengan vitamin A, vitamin E dan juga Vitamin C secara topikal atau dijadikan masker. Tambahkan alpukat untuk memenuhi kebutuhan vitamin E nya.

ATASI KERUTAN & PENUAAN DINI
bagi kalian yang ingin mengurangi kerutan diwajah, sering konsumsi daun kelor untuk menambah kadar dopamin dan serotonin anda (memperbaiki mood dan hormon yang berperan agar orang senang). Serta sering sering bikin masker daun kelor untuk wajah anda. Lakukan perawatan masker selama 40 hari.

MENGATASI MATA PANDA
Mata panda, dapat dihilangkan dengan memberikan krim vitamin A, B6, dan juga terapi protease. Nah itu semua sudah ada banyak di daun kelor.

Konsumsi Daun Kelor bisa dengan cara berikut :
1. Dibuat teh Kelor dengan cara memasukan 1 sendok teh Serbuk Daun Kelor ke dalam 1 gelas air panas, kemudian diaduk hingga larut dan diamkan sampai mengendap dan dingin. Lalu saring ampasnya. Akan menghasilkan teh yang cukup kental. Jika tidak suka Teh Kelor kental, bisa dicairkan dengan mencampurnya kembali dengan secangkir air hangat, sesuai selera anda terhadap rasa dan aroma khas daun Kelor.

2. Sebagai campuran minuman (teh, kopi, jamu, juice, sirup, madu) dan makanan (aneka sayuran, nasi goreng, kue, agar-agar, puding, dll), serta bahan pengisi kapsul.
(Dosis : Dianjurkan untuk dikonsumsi 3-5 sdt per hari)

Mengonsumsi daun atau biji kelor sebagai obat herbal sebenarnya sah-sah saja. Tapi, biji dan daun kelor bukanlah pengganti obat-obatan atau terapi medis dari dokter, melainkan hanya sebagai pengobatan pelengkap.

Obat herbal dan jamu-jamuan sebaiknya hanya dikonsumsi untuk menjaga kesehatan, pemulihan penyakit, atau menurunkan risiko dari penyakit bukan untuk menyembuhkan. Untuk menyembuhkan penyakit tetap dibutuhkan obat resep dokter.

Selain itu, untuk mencegah risiko penyakit dan menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan, penting untuk menjalani gaya hidup sehat dengan berolahraga, makan teratur, dan rajin cek tensi dan/atau gula darah.

Namun yang pasti, kelor yang makin populer saat ini nikmat dibuat sayur. Buahnya yang masih muda juga sedap dijadikan bahan sayur asam. Sedangkan bijinya ini, insyaallah akan bermanfaat buat kesehatan anda.

SEMOGA BERMANFAAT..!!!

Khasiat Tak Terduga Dari Daun Seledri yang Wajib Kamu Ketahui

By On September 18, 2019

Portal Rimbawan - Daun seledri sudah menjadi sahabat terutama bagi Ibu-ibu yang sering memasak.  Yaitu sebagai salah satu sayuran penambah aroma masakan atau lebih khususnya sering digunakan sebagai penyedap sayur sop. Kandungan vitamin pada daun ini mampu bertahan hingga 80% setelah dimasak. Namun dibalik itu ternyata daun Seledri atau dalam bahasa latinnya "Apium Graveolens" ini memiliki banyak manfaat yang mungkin belum banyak diketahui oleh sebagian masyarakat.

Daun seledri mengandung banyak vitamin yakni : vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, vitamin B3, vitamin B5, vitamin B6, vitamin C, vitamin E dan vitamin. Dengan begitu banyaknya kandungan vitamin dari daun seledri, maka tak heran jika daun seledri juga digunakan sebagai tanaman obat. Daun seledri dapat digunakan untuk mencegah atau untuk mengobati beberapa penyakit dengan cara mengkonsumsinya dalam bentuk sayur.

Berikut adalah manfaat daun seledri untuk kesehatan dan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan mengkonsumsi daun seledri  ini :

1. Menurunkan Darah Tinggi

Dengan zat flavonoid dan nutrisi yang tinggi, manfaat daun seledri dipercaya dapat menurunkan tekanan darah yang sedang meningkat. Oleh karena itu, bagi Anda yang memiliki tekanan darah tinggi, sebaiknya mengonsumsi daun seledri guna menstabilkan tekanan darah dan mencegahnya naik kembali.

Cara menggunakannya juga mudah, yakni: Ambil 20 tangkai daun seledri dan cuci bersih, kemudian haluskan seledri tersebut dengan ditambahkan sedikit air lalu peras dan saring seledrinya. Minumlah air perasan tersebut 3 kali sehari, masing-masing 2 sdm.

2. Menurunkan Kolesterol

Daun seledri yang kaya akan nutrisi mampu memecah kolesterol. Sehingga kolesterol tidak akan menyumbat aliran darah serta dapat mencegah penumpukan kolesterol dalam jumlah yang banyak.

3. Mengobati Rematik

Manfaat daun seledri dengan kandungan anti radang, anti bakteri, vitamin dan mineral yang lengkap, mampu meredakan rasa nyeri bagi penderita rematik. Selain itu, kandungan tersebut mampu mengurangi zat purin dalam persendian yang memicu kadar asam urat dalam tubuh meningkat.

4. Mengatasi Anemia

Kandungan zat besinya yang tinggi, membuat daun seledri mampu mencegah serta menyembuhkan anemia. Manfaat daun seledri tersebut terutama berlaku bagi wanita dalam masa menstruasi dan wanita yang tengah hamil.

5. Memperbaiki Fungsi Ginjal

Kandungan nutrisi yang kaya pada daun seledri mampu memperbaiki kinerja ginjal. Selain itu, dapat membantu ginjal agar lebih mudah dalam mengendalikan, menyaring, dan mengeluarkan racun yang disebabkan oleh makanan yang tidak sehat dan radikal bebas yang berbahaya.

6. Mencegah Kanker

Manfaat daun seledri selanjutnya yaitu dapat mengatasi kanker. Kandungan senyawa kumarin fitokimia dan asam fenolat dalam daun seledri, diklaim mampu mecegah, memblokir, serta menghancurkan aktivitas dari sel abnormal yang memicu munculnya sel kanker.

7. Mengatasi Mata Kering

Selain mengatasi mata kering, kandungan nutrisi dan vitamin A pada daun seledri juga mampu menyehatkan jaringan retina serta kornea mata. Dimana hal tersebut mampu mempertahankan ketajaman penglihatan mata Anda dan mencegah dari serangan radikal bebas.

8. Mengatasi Asma

Selain mencegah asma, manfaat daun seledri juga mampu untuk menyembuhkan asma. Kandungan nutrisi yang tinggi pada daun seledri berfungsi agar asma tidak mudah kambuh saat berada di lingkungan berdebu dan berpolusi. Adapun cara mengolahnya sangat praktis, yaitu : Ambil 3 tangkai daun seledri dan 9 daun kapuk/randu, kemudian cuci bersih dan haluskan. Tambahkan gula aren, garam secukupnya, dan ½ gelas air, aduk semua bahan hingga tercampur rata, lalu saringlah dan minum sebelum sarapan.

9. Mengatasi Obesitas

Seluruh nutrisi pada daun seledri diklaim mampu menekan rasa lapar. Dengan hal tersebut mampu mengontrol nafsu makan yang berlebihan sehingga sangat membantu seseorang yang sedang melakukan program diet untuk menurunkan berat badan.

10. Untuk Kecantikan
Pada masalah kecantikan, jangan khawatir. Karena manfaat daun seledri selain mengatasi berbagai macam masalah kesehatan juga sangat baik untuk kecantikan. Misalnya, sebagai anti aging yang kuat, mengurangi minyak berlebih pada wajah, menyuburkan rambut, dan lain-lain. Cara pengobatannya juga mudah, bagi Anda yang tidak suka mengonsumsi langsung maka bisa mencampurkan dengan masakan Anda.

Memelihara Satwa Dilindungi Bisa Dikenakan Sanksi Pidana - Portal Rimbawan

By On September 17, 2019

Portal Rimbawan - Sobat Hijau, sebenarnya memiliki satwa atau burung yang dilindungi itu boleh atau tidak sih? Terus, bagaimana caranya untuk memiliki izin penangkaran burung yang sesuai peraturan perundangan yang berlaku? Nah, mari kita kulik bersama.

Ada dasar aturan yang perlu kita ketahui dan pahami bersama, bahwa setiap spesimen tumbuhan dan satwa liar (TSL) yang dilindungi dan tidak diketahui asal usulnya (secara administrasi) disebut F0/W (wild) dan. Lho kok bisa? Lalu bagaimana dengan satwa yang berasal dari penangkaran?

Mari kita lihat terlebih dahulu berbagai peraturan perundangan yang mengatur hal tersebut.

Pertama, Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Pada Pasal 21 ayat 2, di situ disebutkan bahwa setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa dilindungi baik dalam keadaan hidup maupun mati dan ini ada hukuman pidananya loh.

Bagi yang sengaja melakukan pelanggaran terhadap pasal di atas maka bisa dipidana penjara hingga lima tahun dan denda paling banyak seratus juta rupiah. Sedangkan bagi yang lalai melakukan pelanggaran tersebut dapat dipidana kurungan paling lama satu tahun dan denda paling banyak lima puluh juta rupiah.

Kedua, Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. 19 Tahun 2015 tentang Penangkaran Tumbuhan dan Satwa liar. Mengenai satwa yang berada pada unit penangkaran, maka ketentuan yang diacu adalah  Permenhut Nomor P.19 tahun 2005, khususnya paragraf 2 mengenai pengadaan dan legalitas asl induk. Namun sebelumnya mari kita pahami dulu apakah itu penangkaran ?

Unit penangkaran adalah unit usaha yang hasilnya untuk diperjualbelikan atau untuk dijadikan objek yang dapat menghasilkan keuntungan secara komersial dari hasil pengembangbiakan generasi kedua (F2) dan generasi berikutnya. Spesimen hasil pengembangbiakan generasi kedua (F2) dan berikutnya diperlakukan sebagai spesimen yang tidak dilindungi setelah memenuhi syarat-syarat sebagaimana diatur dalam Permenhut Nomor P.19 tahun 2005.

Jangan lupa, pemegang izin penangkaran berkewajiban melakukan Penandaan Spesimen Hasil Penangkaran, yang dilakukan dengan tanda yang bersifat permanen, baik dalam bentuk tag / cap / transponder / tatoo / label / pemotongan bagian  tubuh  lainnya. Tujuannya untuk membedakan antara sesama indukan, indukan dengan anakan, anakan dengan anakan lainnya, atau antara spesimen hasil penangkaran dengan spesimen hasil penangkapan dari alam.

Oleh karena itu, spesimen hasil penangkaran wajib diberi penandaan untuk membedakan spesimen hasil penangkapan dari habitat alam atau hasil pengembangbiakan generasi pertama (F1) atau hasil pengembangbiakan generasi kedua (F2) dan seterusnya.

Pada Pasal 11, disebutkan bahwa satwa yang berasal dari hasil rampasan, penyerahan masyarakat atau temuan, sepanjang tidak dapat diketahui asal-usul atau status keturunannya dianggap sebagai spesimen hasil tangkapan dari alam (W). Dan penggunaannya sebagai induk penangkaran dapat dilakukan dengan izin Menteri.

Pasal 13, menyebutkan bahwa indukan pengembangbiakan satwa liar yang dilindungi yang berasal dari habitat alam (W) dinyatakan sebagai milik Negara dan merupakan titipan Negara. Pun demikian dengan indukan pengembagbiakan satwa liar generasi pertama (F1) hasil penangkaran jenis satwa liar yang dilindungi. Kedua indukan ini tidak dapat diperjualbelikan dan wajib diserahkan kepada Negara.

Untuk memudahkan penelusuran asal usul (tracking) spesimen hasil penangkaran, penandaan dilengkapi dengan sertifikat, yang berisi kode tanda, nama jenis, jenis kelamin (apabila diketahui), kode tanda dari induknya, tanggal   dilahirkan / menetas / dibiakkan, tingkat generasi, nama / kode penangkar.

Oleh sebab itu, barangsiapa yang memiliki, memelihara, menyimpan, mengangkut, memperniagakan, spesimen satwa dilindungi yang dianggap sebagai hasil tangkapan dari habitat alam (W/F0) tanpa dilengkapi izin perolehan dari Menteri dianggap sebagai pelanggaran tindak pidana.  Hal itu sebagaimana diatur pada pasal 40  ayat 2 dan 4 jo. Pasal 21 ayat 2 a dan b pada Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1990.

Maka, bagi pemegang izin penangkaran harus aktif dan peduli kepada unit penangkaran yang dikelolanya. Pihak BBKSDA Jatim bertugas membina dan mendampingi. Dan  jika ada kesulitan, penangkar diharapkan untuk meminta bimbingan kepada petugas yang ada atau terdekat. 

Jadi menyanyangi tidak harus memiliki ya guys, biarkan mereka bahagia hidup dan berkembang-biak di habitat asli mereka.


Sepuluh Etika Rimbawan - Portal Rimbawan

By On September 12, 2019

Portal Rimbawan - Etika lingkungan merupakan kebijaksanaan moral manusia dalam bergaul dengan lingkungannya. Etika lingkungan diperlukan agar setiap kegiatan yang menyangkut lingkungan dipertimbangkan secara cermat sehingga keseimbangan lingkungan tetap terjaga. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan penerapan Etika Lingkungan sebagai berikut: (a) Manusia merupakan bagian dari lingkungan yang tidak terpisahkan sehingga perlu menyayangi semua kehidupan dan lingkungannya selain dirinya sendiri, (b) Manusia sebagai bagian dari lingkungan, hendaknya selalu berupaya untuk menjaga terhadap pelestarian, keseimbangan dan keindahan alam, (c) Kebijaksanaan penggunaan sumber daya alam yang terbatas termasuk bahan energi, (d) Lingkungan disediakan bukan untuk manusia saja, melainkan juga untuk makhluk hidup yang lain.

Di samping itu, Etika Lingkungan tidak hanya berbicara mengenai perilaku manusia terhadap alam, namun juga mengenai relasi di antara semua kehidupan alam semesta, yaitu antara manusia dengan manusia yang mempunyai dampak pada alam dan antara manusia dengan makhluk hidup lain atau dengan alam secara keseluruhan.

Etika Lingkungan disebut juga Etika Ekologi. Etika Ekologi selanjutnya dibedakan dan menjadi dua yaitu “Etika Ekologi Dalam” dan “Etika Ekologi Dangkal”. Selain itu Etika Lingkungan juga dibedakan lagi sebagai Etika Pelestarian dan Etika Pemeliharaan. Etika Pelestarian adalah etika yang menekankan pada mengusahakan pelestarian alam untuk kepentingan manusia. Sedangkan Etika Pemeliharaan dimaksudkan untuk mendukung usaha pemeliharaan lingkungan untuk kepentingan semua makhluk.
Etika Ekologi Dangkal adalah pendekatan terhadap lingkungan yang menekankan bahwa lingkungan sebagai sarana untuk kepentingan manusia, yang bersifat antroposentris. Etika Ekologi Dangkal ini biasanya diterapkan pada filsafat rasionalisme dan humanisme serta ilmu pengetahuan mekanistik yang kemudian diikuti dan dianut oleh banyak ahli lingkungan. Kebanyakan para ahli lingkungan ini memiliki pandangan bahwa alam bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Secara umum, Etika ekologi dangkal ini menekankan : (a) manusia terpisah dari alam, (b) mengutamakan hak-hak manusia atas alam tetapi tidak menekankan tanggung jawab manusia, (c) mengutamakan perasaan manusia sebagai pusat keprihatinannya, (d) kebijakan dan manajemen sumberdaya alam untuk kepentingan manusia, (e) norma utama adalah untung rugi, (f) mengutamakan rencana jangka pendek, (g) pemecahan krisis ekologis melalui pengaturan jumlah penduduk khususnya di negara miskin, (h) menerima secara positif pertumbuhan ekonomi.

Penulis mengajukan Sepuluh Etika Rimbawan, untuk kita bahas dan renungkan bersama sama, sebagai bagian dari “Revolusi Mental Rimbawan Indonesia”. Kalau para rimbawan mampu melaksanakan beberapa etika saja dari kesepuluh etika tersebut, Insya Allah, akan terjadi perubahan perubahan sikap mental yang mendasar di tingkat pengambil kebijakan dan juga berdampak nyata di tataran masyarakat terutama yang tinggal di pinggiran hutan yang kehidupannya sangat tergantung dari sumberdaya hutan tersebut. Di kawasan hutan negara yang luasnya 120 juta hektar, dikelilingi oleh lebih dari 27.000 desa. Sedangkan di 27,14 juta hektare kawasan konservasi, terdapat lebih dari 5.800 desa dengan penduduk 9.5 juta jiwa yang tergantung langsung kehidupannya. Oleh karena itu sangat penting para pengelola hutan konservasi, yang sebagian besar rimbawan dapat menerapkan semua prinsip-prinsip dalam etika tersebut. Kesepuluh Etika Rimbawan Indonesia yang penulis usulkan untuk menjadi bahan renungan dan diskusi kita bersama diuraikan sebagai berikut :

Pertama : “Manusiakan” Manusia
Etika ini menempatkan “masyarakat sebagai subyek”, dan mengupayakan melibatkannya dalam seluruh siklus manajemen pengelolaan hutan dan lingkungan. Apabila kita memiliki cara pandang masyarakat di sekitar hutan itu sebagai subyek, maka kita akan memiliki empati yang kuat. Kita akan “memanusiakan” mereka dan memandang mereka sebagai aktor yang bisa diajak bicara berkomunikasi berdialog, dan menjadi bagian dari solusi dari persoalan-persoalan yang dihadapi dalam membangun hutan, menjaga hutan, atau memanfaatkan potensi hutan dengan penuh rasa tanggung jawab. Masyarakat sebagai subyek juga berimplikasi bahwa manfaat hutan diupayakan sebesar-besarnya untuk masyarakat,  khususnya yang tinggal di sekitar hutan itu, dengan tetap berpegang pada kesimbangan antara kepentingan ekonomi, ekologi/lingkungan/kelestarian hutan dan sosial-budaya. Mengambil manfaat dari hutan itu ada aturannya, ada batas-batasnya.

Kedua : Hargai Hak Mahluk Hidup Lain.
Ini adalah penerapan konsep “Etika Ekologi Dalam”, dimana manusia adalah bagian dari seluruh komponen alam semesta. Lingkungan biotik, binatang, serangga sebagai polinator, tumbuhan, jazad renik, air, sistem perakaran, udara; lingkungan abiotik, geologi, bebatuan, dimana semuanya berinteraksi dalam sistem hubungan timbal balik yang saling memberi, saling bergantung, dan saling menguntungkan, termasuk pengaruhnya bagi kehidupan manusia. Konsep ini selaras bila dikaitkan manusia sebagai wakil Tuhan di bumi. Manusia sebagai Khalifah. Manusia sebagai pembawa risalah, dan manusia sebagai pembawa rahmat seru sekalian alam. Ini saya sebut sebagai “Tri Tugas Rimbawan”. Keseimbangan alam tersebut telah mulai runtuh ketika manusia bersikap eksploitatif terhadap alam, terutama sejak revolusi industri berlanjut sampai saat ini dimana penduduk bumi telah mencapai 6 milyar manusia. 
Kerusakan alam telah terjadi di berbagai belahan bumi dan hal ini akan terus memburuk apabila manusia tidak merubah sikap dan gaya hidupnya (lifestyle) yang boros akan penggunaan sumberdaya alam untuk mendukung pola kehidupannya, terutama mereka yang hidup di negara negara belahan bumi bagian Utara. Mulai Konferensi Lingkungan Hidup pertama kali di Stockholm 1972 sampai Protokol Kyoto 1992 dan berkembang terus mengerucut di Climate Summit di Paris 2015, menunjukkan perubahan kualitas lingkungan dan perubahan iklim serta suhu bumi yang sangat mengkhawatirkan, yang berdampak luas bagi kehidupan manusia dengan upaya mitigasi dan adaptasi luar biasa besar.

Ketiga : Lakukan “Ahimsa”.
Berbagai persoalan kehutanan, konflik lahan, perambahan, illegal logging, kebakaran lahan, perburuan dan perdagangan satwa, yang ternyata terbukti dilakukan atas motif-motif untuk memenuhi kebutuhan dasar, karena mereka miskin, maka upaya penyelesainnya haruslah tidak dengan kekerasan, tidak dengan pemaksaan, tidak dengan senapan, tetapi dengan solusi kesejahteraan. Hukum harus tegak bagi cukong, pemodal, oknum-oknum yang dengan sengaja memanfaatkan masyarakat miskin tak bertanah di sekitar hutan, untuk melakukan tindakan-tindakan yang menyalahi hukum. Sekali lagi, “Forum Dialog” itulah kendaraan yang seharusnya dibangun dan dipakai untuk mencari solusi bersama, dengan mempertimbangkan berbagai masukan, pendapat, dan aspirasi dari masyarakat.
Masyarakat harus bisa merasakan kehadiran “pemerintah” di halaman rumah mereka, di kehidupan keseharian mereka, ketika mereka menghadapi persoalan-persoalan konkrit, seperti masalah kayu bakar, makanan ternak, layanan kesehatan, sekolah bagi anak-anaknya, akses jalan, pemiskinan, pengijon, middleman, mendapatkan perlindungan dan keadilan, dan banyak persoalan riil lainnya. 
Maka, penyelesaian masalah mereka juga memerlukan keterpaduan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan dalam arti luas. Kehadiran pemerintah yang tidak “sangar”, tidak menakutkan, dan layaknya sebagai “orang tua” sangat ditunggu masayarakat pinggir hutan. Pemerintah yang mau duduk dengan mereka dan mendengarkan berbagai kesulitan, harapan, dan pendapat atau pemikiran mereka. Reformasi Birokrasi harus menyentuh sampai ke wilayah-wilayah seperti ini. Sikap mental aparat pemerintah yang santun dan lebih banyak turun ke bawah menyerap-memotret persolaan nyata. Masyarakat yang hidupnya serba sulit, tinggal di daerah terpencil di tepi-tepi hutan, adalah kekuatan nyata bagi pembangunan hutan dan kehutanan serta lingkungan hidup masa depan.

Keempat : Hormati Hak Masyarakat Adat dan Nilai Budayanya.
Kita perlu terus menguatkan merevitalisasi nilai-nilai adat dan budaya yang masih hidup dan nyata memiliki unsur-unsur penghargaan terhadap alam, spirit menjaga dan melestarikan alam, ke dalam berbagai aspek pembangunan kehutanan. Banyak kawasan hutan yang secara adat masih dikuasai dan dijaga untuk kepentingan kehidupan kelompok-kelompok masyarakat adat. Manajemen kelola hutan kita harus menggali dan mendorong nilai-nilai ini masuk ke dalam bagian dari spirit kelola hutan bersama masyarakat. Di TN Kayan Mentarang, Provinsi Kalimantan Utara, dimana secara adat, kawasan taman nasional itu dimiliki oleh 11 Suku Daya Besar, dikelola dengan konsep yang melibatkan lembaga-lembaga adat setempat. Dibentuk Dewan Pertimbangan Pengelolaan, di mana berbagai persoalan dan perencanaan kelola taman nasional didiskusikan dan disepakati. Ini suatu contoh, bagaimana etika mengelola hutan kita

Kelima : Padukan Local Wisdom dengan Scienti fic Knowledge
Etika menghormati kearifan tradisional dari masyarakat, masyaraat adat yang khususnya yang tinggal di sekitar hutan atau bahkan tinggal di dalam hutan, adalah modal utama. Memadukannya dengan scientific knowledgeatau ilmu pengetahuan modern, adalah kekuatan yang besar. Pada kondisi tertentu, kearifan tradisional mampu menjawab berbagai persoalan pelestarian hutan, pengelolaan lahan pertanian tradisional, yang telah dipraktikkan masyarakat sejak nenek moyangnya.
Pada kondisi yang lain, masukan dari IPTEK diperlukan untuk menggali lebih jauh nilai-nilai kemanfaatan plasma nutfah untuk obat-obatan modern, sebagaimana yang dicontohkan dari TWA Teluk Kupang, yang ternyata potensi sponge-nya atau karang lunak (soft coral) memiliki prospek untuk materi penyembuhan kanker. Jamur tertentu dari hutan tropis yang telah diteliti oleh calon doktor dari Pusat Konservasi dan Rehabilitasi, Litbang Kehutanan, mampu menguraikan dampak lingkungan pencemaran minyak. Pembangunan hutan dengan menggunakan teknologi Silvikultur Intensif (SILIN) yang dikembangkan oleh Prof Soekotjo (Alhm) dan Prof Na’iem dari Fahutan UGM, juga membuktikan bahwa percepatan pembangunan hutan-hutan baru (tanpa mengganggu keragaman hayati) nyata bisa dilaksanakan. IPTEK yang mendapatkan dukungan kebijakan Direktur Jenderal BPK Nomor SK.226/VI-BPHA/2005 tangal 1 September 2005 tentang TPTI Intensif, perlu terus diupayakan untuk dilaksanakan dalam skala yang lebih luas. Hal-hal tersebut di atas membuktikan bahwa IPTEK harus dimanfaatkan untuk membangun hutan Indonesia. Bukan hanya untuk hutan Indonesia. Hasil-hasil riset di kawasan hutan akan berguna untuk kepentingan kemanusiaan dalam arti luas. Upaya-upaya itu masih harus terus ditingkatkan dan didukung oleh kebijakan nasional yang komprehensif, terpadu, dan berkelanjutan serta konsisten

Keenam: Bangun Jejaring Kerja Multipihak-Multidisipliner
Etika ini mencul dari kesadaran bahwa untuk mengelola hutan dengan segala karakteristiknya itu, tidak akan pernah mampu dikelola oleh hanya kelompok rimbawan. Mengurus hutan (di Indonesia) tidak cukup hanya oleh rimbawan saja. Ciptaan Tuhan ini, sangat luar biasanya karena ia tumbuh di muka bumi sebagai hasil dari proses asosiasi yang panjang dari aspek geologi, gerakan lempeng, aktivitas kegunungapian, pembentukan dan pergerakan tanah, iklim, kelerengan, posisinya di permukaan bumi, yang berakibat pada pembentukan pola sebaran flora dan fauna yang beragam karena keterisolasian yang panjang. Kondisi ini masih ditambah dengan pola-pola ketergantungan manusia pada awal kehidupannya kepada sumberdaya hutan beserta seluruh isinya, yang membentuk kebudayaan manusia dan pola-pola pembentukan hutan, ragam dan sebaran flora dan faunanya. Maka, dalam mengurus hutan, kawasan hutan, kita perlu mendapatkan dukungan dari berbagai disiplin keilmuan, berbagai pengalaman empiris pakar, praktisi, pengamat, pemerhati, pejuang lingkungan baik individu maupun lembaga, kaum agamawan dengan lembaga pesantren, gereja, perencana pembangunan, kelompok-kelompok pengajian, pramuka, pecinta alam, kader konservasi, dan lain sebagainya. Rimbawan dengan ilmu kehutanan tidak akan cukup mampu dalam merspon berbagai persoalan hutan dan kehutanan yang bukan sekedar persoalan silvikultur, teknologi kayu, tetapi juga masalah sosial, budaya, antropologi, pengembangan dan pemberdayaan masyarakat, dinamika geopolitik global, politik nasional, dan lokal dan lain sebagainya.

Ketujuh : Terapkan Prinsip Kehati-hatian
Kecerobohan adalah sikap yang sejauh mungkin kita hindarkan. Terapkan prinsip kehati-hatian (precautionary principle) dalam pengelolaan sumberdaya alam, termasuk hutan. Kebijakan seharusnya disiapkan dengan matang didasarkan pada data dan infomasi yang valid. Pemantauan dan evaluasi terhadap penerapan berbagai kebijakan, yang dilakukan dengan benar dan jujur menjadi modal dasar dalam memperbaiki kebijakan ke depan. Pengalaman kerusakan hutan-hutan produksi dengan skema HPH dengan pola monopoli dan dampak negatifnya di masa lalu menjadi bahan koreksi kita bersama. Konsistensi dan pengawasan yang ketat tanpa negosiasi, semestinya dapat menyelamatkan hutan-hutan tersebut. Apabila sistem Tebang Pilih Indonesia (TPI) dilaksanakan dengan konsekuen, maka masih ada harapan akantumbuhnya hutan untuk siklus tebangan berikutnya. Pengalaman itu, kini menjadi pelajaran berharga agar dalam mengusahakan hutan, dilakukan dengan prinsip-prinsip kelestarian dan dengan penawasan yang ketat.

Kedelapan : Bangun “Gerakan Kolektif
Kesadaran adalah tindakan yang dilakukan dengan sadar. Ciri dari tidakan sadar dilandasai oleh tiga hal, yaitu bahwa setiap tindakan dilakukan dengan : (1) ikhlas, (2) senang, dan (3) semangat. Tindakan yang dilakukan secara sadar secara individu tidaklah mencukupi dalam melakukan perubahan yang besar dalam mengelola atau menyelamatkan lingkungan hidup, mengelola hutan. Ia harus berhimpun dalam tindakan secara bersama, terpadu, kolektif. Kesadaran bersama (collective awareness) yang dilakukan secara multipihak inilah yang menjadi cikal bakal dan modal dasar untuk melakukan perubahan dan perubahan yang nyata dirasakan di tingkat tapak, di lapangan, secara masih, dan terus menerus.
Kesadaran bersama ini menjadi cikal bakal dapat dilakukannya aksi bersama (collective action) atau aksi kolektif. Aksi kolektif inilah yang dapat disebut sebagai “gerakan”. Kampanye yang terus menerus dilakukan dalam Penanaman Satu Miliar Pohon, misalnya sebenarnya dimaksudkan sebagai salah satu contoh upaya membangun suatu Gerakan Kesadaran Bersama Multipihak. Kini bukan saja Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan saja, banyak pihak yang mendukung program satu miliar pohon tersebut. From collective awareness to collective action. Dari gerakan di Indonesia akan berkontribusi pada tataran global, sehingga, menanam pohon menjadi kesadaran kita bersama. Program penghijauan dan reboisasi sejak akhir periode 1970, telah menghasilkan kesadaran membangun hutan di lahan milik masyarakat.

Kesembilan: Libatan Perempuan.
Ialah sikap mental dan etika kita untuk mempertimbangkan dan memperluas peran-peran kaum perempuan dalam setiap langkah atau siklus manajemen kawasan hutan. Kerusakan lingkungan berdampak langsung pada kaum perempuan di pedesaan. Berbagai upaya konstruktif menyelamatkan hutan, inovasi baru memperbaiki lingkungan, dilakukan oleh perempuan. Pendidikan anak-anak agar cinta pada lingkungan diemban kaum perempuan. Banyak di antara perempuan tangguh tersebut telah menerima Kalpataru, karena pengabdiannya yang luar biasa pada penyelamatan lingkungan dan menginspirasi masyakarat luas.
Seorang perempuan bernama Tri Mumpuni-Pendekar Lingkungan Hidup 2008 adalah contohnya. Ia mampu menggerakkan masyarakat dan menjadi motor pembangunan mikro (mini) hidro yang menghasilkan listrik di 60 lokasi tersebar di seluruh Indonesia. Usahanya membentang dalam tempo tidak kurang dari 17 tahun (Berita TransTV 17 Agustus 2010; jam 21:48). Puluhan penghargaan diterimanya dari berbagai kalangan, antara lain sebagai Climate Hero dari WWF.

Kesepuluh : Rangkul Kaum Muda
Mempertimbangkan tujuan jangka panjang dari pengelolaan hutan dan lingkungan secara luas, maka isu kunci yang harus dipertimbangkan dalam kebijakan nasional adalah tentang pendidikan lingkungan dan peran kamu muda. Mereka kelompok potensial untuk terlibat dalam berbagai upaya dan gerakan penyelamatan lingkungan. Sudah sewajarnya dibangun strategi pengelolaan hutan dan penyelamatan lingkungan dengan melibatkan kaum muda. Mereka yang akan mengambil tongkat estafet dari generasi tua saat ini, untuk dilanjutkan ke depan. Skala waktu yang dipakai dalam pengelolaan hutan dan isu-isu lingkungan bukan hanya lima tahun, atau 10 tahun, tetapi 50-100 tahun ke depan. Skala generasi, antar generasi, dan lintas generasi. Investasi pendidikan lingkungan saat ini akan menentukan hasilnya 20-30 tahun ke depan. Bonus demografi yang dialami Indonesia, dengan lebih dari 40% penduduknya dalam usia produktif, merupakan modal dasar untuk melakukan pewarisan best practices dalam pengelolaan sumberdaya alam dari generasi saat ini kepada generasi muda tersebut. Praktik kelola sumberdaya alam dan pemikiran pemikiran serta inovasi baru tentang pengelolaan sumberdaya alam harus didokumentasi dan diwariskan kepada generasi muda untuk terus dilanjutkan dan bahkan dikembangkan. Penemuan spesies baru, spesies hasil rekayasa genetik, harus terus dipacu untuk diujicobakan di lapangan.
Generasi Z yang lahir di tahun 2000an lah yang akan memainkan peran kesejarahan besar di masa depan, bukan generasi tua era 1960an atau era 1970an. Generasi yang lahir pada periode akhir 2000an akan membawa tongkat estafet pembangunan lingkungan dan kehutanan di Indonesia sampai melewati tahun 2050 dimana penduduk dunia sudah mencapai 9 milyar jiwa.
Epilog
Etika semestinya menjadi spirit dari para rimbawan. Menjadi modal dasar dalam menyusun visi bersama untuk membangun lingkungan dan hutan Indonesia. Namun demikian, rasanya semakin lama kita semakin tidak memandang perlu bicara tentang “Etika” atau lebih fokus lagi “Etika Rimbawan”. Atau bahkan kita telah melupakannya.

Sepuluh Etika Rimbawan yang diajukan oleh penulis ditujukan untuk membangunkan kembali mimpi bersama tentang spirit kelola hutan dan lingkungan hidup di Indonesia. Mulai dari “Deklarasi Kaliurang” tahun 1967 sampai ke “Deklarasi Cangkuang” 1999, dan kemudian setelah 17 tahun, Deklarasi Cangkuang pun tinggal menjadi kenangan, apabila kita tidak menterjemahkannya ke dalam strategi dan aksi nyata yang harusnya dilakukan secara konsisten dan persisten.

Kebijakan Perhutanan Sosial, yang ditetapkan dalam RPJMN 2015-2019 seluas 12,7 juta hektar kawasan hutan negara atau 10% dari luas hutan di seluruh tanah air untuk masyarakat pinggir hutan, semoga akan berhasil apabila menerapkan Sepuluh Etika Rimbawan tersebut di atas. Demikian pula dengan kebijakan Kemitraan Konservasi atau Perhutanan Sosial di Hutan Konservasi, yang menyusul ditetapkan tahun 2018. Dengan kedua program ini, masyarakat pinggir hutan diberikan kepercayaan untuk mengelola dengan menempatkan masyarakat sebagai subyek, sebagai pelaku utamanya. Kebijakan yang sebenarnya telah diperjuangkan sejak tahun 1978 dalam Kongres Kehutanan se Dunia ke VIII, dengan tema sentralnya “Forest for People”.

Semoga tulisan pendek tentang Etika Rimbawan ini dapat mengusik “tidur nyenyak” para rimbawan Indonesia, dan para pecinta lingkungan, untuk bangkit dan menemukan kembali spirit dan jatidiri serta panggilan profesionalnya sebagai seorang rimbawan Indonesia. Tentu dengan tugas yang semakin berat pasca 50 tahun sejarah eksploitasi hutan skala komersial sejak tahun 1970.

Semoga kita belum terlambat untuk memperkuat dan memperteguh Etika Rimbawan Indonesia sebagai fondasi yang lebih kuat dalam konteks dan situasi kekinian kondisi hutan dan lingkungan hidup di tanah air.  Juga demikian kita masih bisa bersama-sama menyanyikan "Seruan Rimba"


Mahasiswa Kehutanan : Hutan Yang Luas Aja Dijaga dan Dilindungi Apalagi Kamu..

By On September 03, 2019

Portal Rimbawan - Hallo sobat, kembali lagi nih diblog receh dan sederhana ini. Pada artikel sebelumnya telah kita kupas fakta-fakta tentang Mahasiswa Kehutanan. Nah, kali ini kami kupas topik tentang Mengapa Kamu Harus Memilih Pasangan Seorang Rimbawan?

Rimbawan berasal dari dua kata "rimba" dan "wan", rimba artinya hutan dan wan adalah manusia. Tapi Rimbawan jangan diartikan sebagai manusia hutan ya. Rimbawan adalah seseorang yang memiliki profesi pengelolaan hutan atau orang yang berdedikasi dan berperan dalam kegiatan pengelolaan hutan menuju kelestarian. Jadi Rimbawan adalah julukan yang melekat pada mahasiwa Kehutanan, karena mahasiswa kehutanan dididik dan dibina untuk menjadi pengelola hutan nantinya.

Tapi dalam artikel ini kita tidak mengupas tentang tugas pokok seorang rimbawan melainkan mengupas tentang dunia percintaannya. Walau hidup selalu di dalam hutan memang Rimbawan ngak boleh jatuh cinta apa? hehehe..

Balik ke topik, Jadi buat kamu yang punya cowok/cewek seorang mahasiswa/pelajar kehutanan wajib dipertahankan dan diperjuangkan hingga jenjang pernikahan. Karena rata-rata mahasiswa kehutanan kalau sudah mencintai sesuatu dia akan mempertahankan hingga titik darah penghabisan. Eitts..., tapi jangan coba-coba khianati kesetiaan seorang rimbawan, kalau dia marah nanti bisa berubah jadi Tarzan terus ngamuk, wkwk bercanda"

Berikut Kita Kupas Mengapa Kamu Harus Pertahankan Cinta Seorang Mahasiswa Kehutanan:

Anak Kehutanan rata-rata memiliki jiwa petualangan yang tinggi dan ingin selalu bersetubuh dengan alam. Setiap ada waktu luang sedikit saja pasti mereka sudah mempersiapkan planning ke suatu tempat, mendaki misalnya. Ya, anak kehutanan adalah pemuja keindahan alam dari sang ciptaan. Ia rela jauh-jauh pergi kesuatu tempat hanya untuk mendapatkan kedamaian dan sesekali mengabadikannya dalam sebuah foto. Jadi, kamu harus jaga baik-baik kekasihmu yang merupakan seorang rimbawan, jangan dilepas karena dia adalah seorang yang gigih berjuang dan rela berkorban demi mendapatkan keinginannya. 

Anak Kehutanan itu identik dengan jiwa korsanya. Jiwa korsa adalah tentang loyalitas, tanggung jawab, terbuka, memiliki dedikasi dan lain-lain. Di kehutanan jiwa korsa sudah ditanamkan sejak pertama kali masuk ke fakultas kehutanan itu sendiri. Coba banyangin kamu punya kekasih seorang Rimbawan. Punya tugas mulia (Jaga Hutan), bertanggung jawab terus setia lagi. Sungguh beruntungnya kamu mendapatkan calon pendamping hidup se-perfect ini. wkwk..

Selanjutnya, Anak kehutanan itu sangat cinta dengan satwa lho. Buktinya banyak penelitian mahasiswa kehutanan yang objeknya adalah satwa. Dalam hal ini mahasiwa biasanya meneliti tentang tingkah laku dan penyebarannya. Coba banyagin tingkah laku hewan aja diperhatiin, apalagi kamu.... 

Mahasiwa kehutanan juga belajar tentang pengadaan bibit. Dari tahap paling awal memilih benih yang layak untuk kecambahkan hingga dipindah ke dalam polybag dan siap untuk di tanam untuk reboisasi atau penghijauan. Jadi bibit-bibit tersebut mereka rawat seperti anak sendiri loh. Diberi makan, minum dan nutrisi yang cukup serta kasih sayang, bayangin jika nanti kamu punya anak dari pasangan seorang Rimbawan. Kamu dan anakmu nantinya akan mendapatkan seorang ayah/ibu yang penuh akan kasih sayang dan akan melindungimu hingga akhir hayat. ciyee...

Di Fakultas Kehutanan mereka diajarkan tentang ekologi hutan, silvikultur, ilmu tanah sampai pengelolaan dan manajemen hasil hutan sendiri. Dimana inti dari semua mata kuliah tersebut adalah untuk menumbuhkan rasa peka kita terhadap alam dan dapat menjaga kelestariannya. Kita ketahui saat ini luas hutan alam terus menyusut dan berkurang setiap tahunnya. jadi, tugas seorang mahasiswa kehutanan kedepannya cukup berat. Kamu harus support dia dan jangan biarkan dia berjuang sendirian.. hehehe...
Jaga Hutan untuk Peradaban, Jaga cinta 
Seorang Rimbawan untuk Masa Depan.
SALAM RIMBA..!!