Follow by Email

Memprihatinkan, Populasi Pesut Mahakam Hanya Tersisa 30 Ekor?

Portal Rimbawan - Adakah sobat Portal Rimbawan yang tinggal di dekat Sungai Mahakam? Pasti pernah mendengar tentang Pesut. Namun, belum tentu semua orang pernah melihat langsung hewan dengan sebuatan lain lumba-lumba air tawar yang dijadikan maskot Provinsi Kaltim ini berenang bebas di sungai terbesar dan terpanjang di Kaltim. Apalagi saat ini memang sangat sulit menjumpai pesut di perairan Tenggarong hingga Samarinda, kecuali dulu dibawah tahun 2000 pesut masih kerap terlihat. Sehingga banyak anak-anak dan generasi sekarang yang belum sama sekali melihat hewan langka yang mendunia tersebut.  
Pesut Mahakam adalah salah satu satwa dilindungi di Indonesia. Hal itu sudah disertakan pada UU No. 5 1990. Pesut yang ada di Kalimantan Timur dapat kita jumpai di beberapa titik wilayah seperti sungai Belayan, Muara Sungai Pela, Danau Semayang yang masing-masing tempat ini berada di wilayah Kotabangun, kita juga dapat menjumpai pesut di sungai Kedang Rantau, Muara Kedang Kepala dan terkadang masuk ke Muara Siran wilayah Kecamatan Muara Kaman, selain itu ada wilayah lagi biasanya pesut ino muncul diantaranya di Kecamatan Muara Wis dan Muara Muntai, Kalimantan Timur.

Untuk diketahui bahwa panjang tubuh pesut dewasa bisa mencapai 2,7 meter dengan berat maksimal 150 kg, dimana jantan lebih besar daripada betina. Bayi pesut baru lahir memiliki panjang 90cm-1m dengan berat 10-12 kg. Mamalia mahakam ini memiliki masa hamil 8 hingga 14 bulan, dan melahirkan anak dalam kurun 1 sampai 3 tahun sekali. Setelah melahirkan biasanya pesut menyusui anaknya selama 1 hingga 2 tahun. 

Tubuh Pesut berwarna abu-abu atau kelabu sampai biru tua dengan bagian bawah berwarna lebih pucat. Pesut sering berenang dengan kecepatan 5 km/jam, bisa berenang cepat hingga 20km/jam namun sangat jarang. Bentuk badan pesut hampir mendekati oval dengan sirip punggung mengecil dan agak ke belakang. Kepala pesut berbentuk bulat dengan mata yang berukuran kecil. Mulutnya lebar melintang di bagian moncong yang tak berparuh seperti lumba-lumba, diatas kepalanya terdapat lubang pernafasan atau lubang sembur. Menurut Danielle, pesut juga bisa menyemburkan air dari mulut untuk membingungkan ikan yang menjadi mangsanya, juga dilakukan pejantan untuk menarik perhatian betina.

(Tingginya aktivitas di Perairan Kalimantan sangat mempengaruhi keberlangsungan hidup Pesut Mahakam)
Banyak sekali ancaman-ancaman bagi kehidupan pesut sendiri, antara lain: hampir 64% kematian pesut mahakam banyak tersangkut di rengge ataupun jaring nelayan, kemudian konversi rawa oleh industri kelapa sawit juga sangat mempengaruhi kulitas air sungai, dimana rawa yang seharusnya menjadi tempat ikan bertelur sudah tidak bisa lagi dikembangkan, lalu metode penangkapan ikan secara ilegal seperti penyetruman, trawl juga mempengaruhi bagi kehidupan pesut, polusi dalam air dari tugboat, sampah plastik dan bahan kimia lainnya yang telah tebuang ke sungai serta tingginya aktivitas di sungai baik dari nelayan maupun aktivitas pengangkutan hasil tambang sangat menganggu keberlangsungan hidup pesut mahakam sendiri. 
(Terlihat seekor Pesut Mati dan terdampar di pinggir Sungai)
Tahun 2018 adalah catatan kelam bagi pesut mahakam dan menjadi sejarah buruk bagi pesut, karena tahun 2018 ada kisaran 10-11 ekor pesut mahakam yang ditemukan mati. Berbagai upaya telah dilakukan untuk melindungi habitat pesut mahakam seluas 45.000 ha. 
(Penampakan Munculnya Pesut Mahakam)
Pada tahun 2019 sendiri sudah sangat sulit untuk menjumpai pesut mahakam, bahkan dapat dihitung jari. Pada bulan mei kemarin sempat mucul seekor pesut di perairan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tanjung Limau, diduga melakukan migrasi lantaran lingkungan perairan Bontang dianggap masih bagus untuk hewan tersebut bertahan hidup. Diperkirakan berat pesut ini mencapai 60 kg, diameter 40 cm dan panjang 3 meter. 

Hasil survei dan pemantauan Lembaga JARI Indonesia Borneo Barat, hanya ada 30 ekor Pesut di sejumlah sungai di Kabupaten Kubu Raya dan Kayong Utara, Kalimantan Barat. “Memang belum ada data populasi yang pasti, namun dari akumulasi perjumpaan dan jumlah setiap perjumpaan, diperkirakan populasi Pesut di perairan Kubu Raya dan Kayong Utara lebih dari 30 individu pesut dengan warna hitam, abu-abu, dan putih,” kata Manajer Program JARI Indonesia Borneo Barat, Aris Munandar.

Saat ini, JARI Indonesia Borneo Barat melalui dukungan program Tropical Forest Conservation Act (TFCA) Kalimantan, bekerja sama dengan pemerintah Indonesia dan Amerika, sedang mengumpulkan data tentang keberadaan pesut dan kondisi lingkungan habitat pesut di perairan Kubu Raya dan Kayong Utara.

Hal itu dilakukan sebagai bahan untuk mengupayakan adanya kebijakan tentang perlindungan habitat Pesut khusunya di Kalimantan Barat.

Mari kita sebagai Masyarakat juga ikut ambil bagian untuk menyelamatkan Pesut Mahakam dari kepunahan sebelum terlambat. Kita jaga lingkungan sungai yang bersih dan tidak mengotorinya dengan sampah. Karena sungai adalah rumah utama bagi Pesut. 

SALAM LESTARI...!!!!






Previous
« Prev Post