Follow by Email

LAPORAN MAGANG TEKNIK PEMBIBITAN SENGON BUTO (enterolobium cyclocarpum Griseb) di Persemaian CV. Rayani Mandiri

PENDAHULUAN
1.1     Latar belakang
          Pembibitan merupakan proses untuk menumbuhkan dan mengembangkan benih atau kecambah menjadi bibit yang siap untuk ditanam. Pemilihan bahan tanam (bibit) dan pemahaman terhadap sifat dan karakteristik bibit merupakan faktor penting keberhasilan kegiatan budidaya tanaman (ICRAF, 2006).
      Sampai saat ini produktivitas hutan alam sudah menurun sangat drastis sejalan dengan meningkatnya eksploitasi hutan secara terus-menerus untuk memenuhi permintaan akan kebutuhan kayu. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka pembangunan hutan tanaman sebagaai penghasil kayu baik untuk industri, pertukangan, kayu energi dan lain-lain harus ditingkaatkan baik dengan penambahan luas hutan tanaman maupun penggunaan materi tanaman unggul hasil pemuliaan. Dengan menggunakan materi tanaman yang unggul melalui kegiatan pembibitan yang baik akan dapat meningkatkan produtivitasnya dan mutu tegakan yang dihasilkan (Adinugraha, 2011).
          Kegiatan pembibitan merupakan tindakan kultur teknis dalam upaya mengelola perkecambahan benih agar dapat tumbuh dan berkembang menjadi bahan tanaman (bibit) sehingga bibit tersebut dapat ditanam di lingkungan terbuka (lapangan) dan dapat tumbuh dengan baik. Pada pembibitan terdapat tiga aspek kegiatan pembibitan agar mendapatkan bibit yang berkualitas yaitu memilih benih unggul, penanaman dan kegiatan perawatan bibit dan seleksi bibit. Sasaran utama pembibitan adalah menyediakan bahan tanaman (bibit) yang bermutu baik dengan biaya yang wajar, sehingga dapat mendukung program penanaman yang tepat di lapangan. Oleh karena itu pembibitan sebenarnya kegiatan yang strategis pada tahap awal penanaman pohon secara luas. Kegiatan pembibitan juga akan menentukan kualitas, kuantitas, sebaran waktu, dan volume kegiatan pada tahapan proses kegiatan penanaman dan pasca penanaman (perawatan) di lapangan. Mutu bibit yang baik akan mendukung maksimal dalam proses-proses kelanjutan manajemen tanaman serta kualitas dan produktivitas (hasil) tanaman. Jumlah bibit yang akan ditanam pada suatu waktu akan menentukan jumlah transportasi, volume penanaman bibit, kegiatan pemupukan, perawatan dan kegiatan terkait lainnya di lapangan (Duladi, 2010).
         Sengon buto atau dalam Bahasa Ingris dikenal dengan nama monkey soap, ear fruit, ear pod dan orejoni (Plantamor 2008 diacu dalam Pratama 2010). Jenis ini termasuk ke dalam suku Leguminoceae, pohon yang memilki tajuk rindang dengan perakaran yang dalam, sehingga jenis ini dapat berfungsi sebagai tanaman pionir untuk konservasi tanah dan air. Sengon buto termasuk jenis cepat tumbuh (fast growing species), sehingga memiliki prospek untuk dikembangkan sebagai tanaman industri maupun reboisasi. Menurut Djam’an (1996) diacu dalam Siagian (1997), jenis ini toleran terhadap tanah berpasir dan salin.
       Sengon buto atau sengon raksasa, disebut demikian karena sepintas mirip dengan sengon. Perbedaannya terletak pada kecepatan tumbuhnya yang rata-rata tiga kali lebih cepat. Sengon buto merupakan jenis yang exotic (pohon yang berasal dari luar Indonesia), yang berasal dari Amerika Tropik (Sastrapradja dan Bimantoro 1980).
        Menurut Siagian (1997), kayu sengon buto dapat digunakan untuk pembuatan perahu, karena kayu sengon buto mudah dikerjakan dan tahan dalam air. Selain itu, daunnya dapat digunakan juga sebagai pakan ternak, buah dan kulitnya mengandung tanin yang dipergunakan untuk mencuci barang-barang yang terbuat dari wool di Amerika. Kayu sengon buto dapat juga digunakan untuk perkakas, panel, kano, saluran air dan kayu kontruksi.
       Permudaan tanaman sengon buto ada dua cara, yaitu dengan menanam langsung benih ke lapangan dan menanam anakan dari persemaian (Alrasjid dan Ardikusuma 1974). Supriadi dan Valli dalam Maretina (2010) mengatakan bahwa bibit sengon buto yang siap tanam di lapangan itu harus berumur tiga bulan di persemaian, bermutu  baik, memiliki perakaran yang kompak, batang kokoh dan sehat. Kebanyakan yang termasuk suku Leguminoseae mempunyai bintil akar (Rhizobium). Bintil akar ini berguna sebagai penambat nitrogen dari udara, sehingga tanaman mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan nitrogen dari hasil fiksasi tersebut.
1.1.1 Alasan Pemilihan Tempat Praktik Umum/Magang
CV. Rayani Mandiri yang bertempat di Kelurahan Kawatuna Kecamatan Mantikulore Kota Palu. Memilih persemaian ini sebagai tempat Praktik Umum/Magang dikarenakan persemaian ini merupakan salah satu persemaian semi permanen yang telah lama berdiri dan jenis yang dibibitkan didominasi oleh tanaman kehutanan. Dengan demikian, kami para mahasiswa Praktik Umum/Magang diharapkan dapat mengetahui teknik pembibitan dari berbagai jenis tanaman kehutanan seperti dari tahap awal hingga bibit siap untuk ditanam di lokasi penanaman.
1.1.2 Alasan Pemilihan Bidang Yang Dipelajari
Pemilihan Bidang yang dipelajari di persemaian CV. Rayani Mandiri adalah teknik pembibitan Sengon Buto (Enterolobium cyclocarpum Griseb), alasan mengikuti bidang ini selain sesuai dengan mata kuliah minat juga karena ketertarikan akan jenis sengon buto dengan nilai ekonominya cukup menjanjikan, dimana jenis tanaman ini banyak dibutuhkan dalam industri pengolahan kayu.
1.2    Tujuan Praktik Umum/Magang
         Tujuan dari  praktik umum/magang  ini yaitu mengaplikasikan ilmu yang di dapat pada bangku kuliah langsung secara nyata diaplikasikan khususnya terkait  teknik pembibitan Sengon Buto (Enterolobium cyclocarpum Griseb) yang letaknya di  persemaian di CV. Rayani Mandiri di Kelurahan Kawatuna , Kecamatan Mantikulore, Kota Palu.
1.3    Manfaat Praktik Umum/Magang    
        Manfaat dari praktik umum/magang ini agar mahasiswa dapat langsung mengaplikasikan ilmu yang didapat pada bangku kuliah di lapangan, sehingga pemahamannya lebih mendalam khususnya dibidang pembibitan dan silvikultur. Mengingat hal ini adalah awal dari proses kelangsungan hutan kedepannya. 
II. GAMBARAN UMUM LOKASI PERUSAHAAN
 
2.1    Letak Lokasi
         Persemaian CV. Rayani Mandiri terletak di Kelurahan Kawatuna, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. Luas areal Persemaian yaitu 2 ha. Persemaian CV. Rayani Mandiri berbatasan dengan :
a. Sebelah utara         : DAS (daerah aliran sungai)
b. Sebelah timur       : Kel. Poboya Kec. Mantikulore Kota Palu
c. Sebelah Selatan      : Kebun warga
d. Sebelah Barat       : Jalan

 Gambar 1. Peta Lokasi Persemaian CV. Rayani Mandiri
2.2 Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana yang digunakan pada persemaian CV. Rayani Mandiri sebagai penunjang pelaksanaan kegiatan praktik umum/magang adalah sebagai berikut :
1. Alat
Adapun alat yang digunakan di persemaian tersebut adalah cangkul, sekop, gerobak dorong (artco), selang, linggis, kaos tangan, tangki semprot dan mesin sedot air.
2. Bahan
Adapun bahan yang digunakan di persemaian tersebut adalah tanah, pasir, air, benih tanaman, bibit cabutan alam, pupuk (organik dan anorganik), polybag dan insektisida.
2.3 Struktur Organisasi
Tenaga kerja yang diperkerjakan pada persemaian CV. Rayani Mandiri adalah dari tenaga kerja lokal yang berada disekitar lokasi pembibitan, jumlah pengurus yang ada di CV. Rayani Mandiri sebanyak 6 orang. berikut struktur bagannya.
Gambar 2. Struktur Organisasi Persemaian CV. Rayani Mandiri
2.4    Aksebilitas
         Aksebilitas menuju ke lokasi persemaian dapat di tempuh dari kota palu 20 menit dengan menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat serta memiliki jarak tempuh 10 km kearah timur dari Kota Palu.
III. KEGIATAN PELAKSANAAN PRAKTIK UMUM/MAGANG
3.1    Kegiatan di Dinas Instansi/Magang
         Kegiatan sehari-sehari yang dilakukan di persemaian CV. Rayani Mandiri terdiri dari sebagai berikut :
1. Penyapihan                             5. Penyungkupan
2. Penyiraman     6. Penyiapan Bedeng Sapih
3. Penyulaman     7. Audit Bibit
4. Pendagiran dan Penyiangan  8. Pengangkutan Bibit
3.1.1 Penyapihan
Penyapihan adalah menanaman bibit/anakan semai ke polybag di bedeng sapih. Penyapihan yang kami lakukan yaitu terhadap bibit/anakan semai durian, cingkeh, rambutan dan kemiri yang sudah berkecambah dan siap untuk proses penyapihan.
        Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyapihan antara laim:
1.  Pencabutan bibit/anakan semai dari bedeng tabur harus hati-hati agar batang dan akar tidak patah.
2.  Kecambah tidak boleh luka.
3. Penyapihan dilakukan pada pagi atau sore hari  dan harus di bawah naungan (Paranet) karena  bibit/anakan semai belum mampu menerima sinar matahari langsung.
3.1.2 Penyiraman
         Bibit sangat bergantung pada intensitas penyiraman untuk memenuhi kebutuhan airnya, karena ruang gerak akar yang terbatas karena masih berada dalam polybag. Penyiraman dilakukan dua kali dalam sehari yaitu pada pagi dan sore hari. Penyiraman pada persemaian CV. Rayani Mandiri dilakukan pada bibit/anakan semai yang berada di bedeng sapih dan bibit yang berada pada bedeng bibit yang sudah dalam polybag. Frekuensi penyiraman dapat dikurangi pada musim hujan dan harus selalu diperhatikan agar media jangan sampai kekeringan atau terlalu basah karena keduanya dapat mengganggu kesehatan bibit.
3.1.3 Penyulaman
       Kegiatan penyulaman dilakukan pada bibit tanaman durian, kemiri dan rambutan. Tujuan penyulaman yaitu penanaman kembali bagian-bagian yang kosong bekas tanaman yang mati atau diduga akan mati dan rusak pada bedeng bibit sehingga terpenuhi jumlah tanaman pada tiap bedengnya.
         Kegiatan penyulaman pada persemaian CV. Rayani Mandiri yaitu dilakukan pada bibit/anakan semai jenis durian (Durio zibethinus), kemiri (Aleurites moluccana), rambutan (Nephelium lappaceum) dan jati putih (Gmelina arborea Roxb).
3.1.4 Pendangiran dan Penyiangan
Pendangiran yaitu kegiatan untuk menggemburkan tanah atau lahan pertanian untuk tujuan supaya tanah menjadi gembur dan semakin subur, sehingga bibit/anakan semai akan tumbuh dengan baik, nutrisi dan hara pada tanah mampu berfungsi dengan baik. Sedangkan penyiangan yaitu untuk membersihkan rumput pengganggu bibit/anakan semai, dengan menggunakan alat mirip sabit, tajak, atau mencabut menggunakan tangan.
        Kegiatan pendagiran dan penyiangan pada persemain CV. Rayani Mandiri dilakukan pada areal sekitar bedeng sapih dan bedeng bibit.
3.1.5 Penyungkupan
Tujuan penyungkupan ini yaitu untuk mengurangi penguapan dan menjaga kelembaban udara pada polibag bibit/anakan semai. Bibit/anakan semai juga kemudian ditempatkan di bawah naungan agar terlindung dari panasnya sinar matahari.
       Kegiatan penyungkupan di persemaian CV. Rayani Mandiri dilakukan pada jenis bibit/anakan semai kemiri (Aleurites moluccana) dan jabon merah (Anthocephalus macrophyllus). Kegiatan penyungkupan Pembuatan sungkup dilakukan dengan ukuran tinggi 40–50 cm dengan lebar adalah ukuran penyusunan polybag dan panjang tergantung panjang susunan polybag. Kegiatan pertama yaitu membuat tiang utama pada bagian pangkal, tengah, dan ujung bedengan. Kemudian dibuat busur-busur dari bambu dengan jarak antar busur maksimal 1 (satu) meter. Ujung masing-masing busur ditancapkan ke dalam tanah di samping posisi bibit terluar serta bagian tengah busur diikatkan pada galangan atau palang.
      Plastik benih (jangan hitam) dipasang setahap demi setahap mulai dari pangkal ke ujung. Bersamaan dengan pemasangan plastik dilakukan penyiraman hingga bibit jenuh air dan seluruh plastik bagian dalam basah. Hal ini dilakukan hingga seluruh kerangka sungkup tertutup erat plastik. Penyungkupan dibuka pada hari ke empat, tetapi bisa saja berubah tergantung cuaca.
3.1.6 Penyiapan Bedeng Sapih 
       Tujuan penyiapan bedeng sapih yaitu untuk menampung polybag yang berisi semai. yang berasal dari biji atau sistem cabutan yang sudah ditanam dalam polybag. Bedeng sapih adalah bedengan tempat diletakannya polybag yang berisi bibit yang berasal dari bedeng tabur, guna mempersiapkan ukuran dan mutu bibit yang memadai untuk pengayaan, rehabilitasi ataupun peruntukan lainnya.
Bedeng sapih sangat perlu dilakukan perawatan sebelum dilakukannya proses pemindahan stok polybag baru. Proses penyiapan bedeng sapih ini dilakukan setelah bibit lama yang berada di bedeng sapih dipindahkan ke bedeng penyesuaian.

3.1.7 Audit Tanaman
       Tujuan dari audit tanaman yaitu untuk menghitung jumlah bibit yang berhasil hidup dan tanaman yang tidak berhasil. Mahasiswa magang melakukan audit pada semua jenis bibit yang ada pada persemaian CV. Rayani Mandiri yang banyaknya ada 22 jenis tanaman.
      Kegiatan audit ini sangat penting dilakukan untuk mengetahui tingkat pertumbuhan bibit. Dengan dilakukannya audit ini akan diketahui jumlah bibit dari semua jenis bibit yang ada di persemaian untuk mencapai target permintaan dan sebelum dilakukan kegiatan pengangkutan.
3.1.8 Pengangkutan Bibit
Pengangkutan bibit merupakan pekerjaan pemindahan bibit dari persemaian ke areal penanaman. Pengangkutan bibit dilakukan secara hati–hati agar tidak mengalami kerusakan selama dalam perjalanan. Bibit yang telah diseleksi dimasukkan ke dalam peti atau keranjang dengan disusun rapat sehingga tidak bergerak jika dibawa atau ditumpuk. Bibit yang dibawa ke lapangan adalah bibit yang sehat dan segar, dan dihindarkan dari panas matahari serta disimpan di tempat teduh dan terlindung.
Jenis bibit yang masuk dalam tahapan pengangkutan pada persemaian CV. Rayani Mandiri antara lain jati super (Tectona Grandis Linn.f) sebanyak 11.000 bibit, jambu monyet (Anacardium Occidentale I) sebanyak 6.500 bibit, kemiri (Aleurites moluccana) sebanyak 10.000 bibit dan jabon merah (Anthocephalus macrophyllus) sebanyak 7.000 bibit dengan menggunakan truk untuk menuju ke lokasi penanaman.
3.2    Kegiatan Dilapangan Sesuai Judul Yang Dipilih
Judul yang dipilih yaitu teknik pembibitan sengon buto (Enterolobium cyclocarpum Griseb) di persemaian CV. Rayani Mandiri, berikut uraian kegiatan yang dilakukan dari tahap awal hingga akhir antara lain sebagai berikut :
1. Pengadaan Bibit                                   5. Penyapihan
2. Pembuatan Bedeng Tabur                     6. Penyiangan
3. Media Tanaman                                      7. Penyiraman Bibit pada Bedeng Bibit
4. Penyiraman Benih pada Bedeng Tabur
3.2.1 Pengadaan Bibit
         Pengadaan bibit merupakan kegiatan yang meliputi penyiapan sarana, prasarana, pengumpulan bibit berkualitas baik berupa biji maupun anakan alam (wilding) ataupun teknik lainnya  yang  diperuntukkan  sebagai penyedia materi (bibit) khususnya dalam kegiatan penanaman, pengayaan.
Tujuan dari pengadaan bibit sengon buto (Enterolobium cyclocarpum Griseb) adalah untuk memperoleh bibit/anakan semai yang siap untuk di tanam di bedeng sapih.
      Dalam proses pengadaan bibit ini yang perlu diperhatikan adalah perlakuan terhadap biji tanaman yang akan disemai. Dalam jarak waktu 1 minggu hanya menyemai 1 jenis bibit. Sumber biji bersal dari Kota Makassar, didapatkan dari masyarakat sekitar yang memiliki banyak indukan sengon buto (Enterolobium cyclocarpum Griseb) dan bukan merupakan biji yang bersertifikat. Perlakuan yang diberika kepada biji yang pertama yaitu perendaman menggunakan air panas selama 5 detik, pisahkan atau buang biji yang mengembang, kemudian ditambahkan dengan air biasa dan direndam selama 1 malam. Perlakuan ini dilakukan untuk merangsang pertumbuhan biji agar menghasilkan bibit yang baik untuk disemai.
3.2.2 Pembuatan Bedeng Tabur
         Bedeng tabur atau biasa juga disebut bak kecambah adalah tempat yang dibuat untuk proses perkecambahan benih hingga siap dipindahkan di polybag. Pembuatan bedeng tabur dibuat di atas tanah seperti bedeng dengan ukuran sesuai dengan kebutuhan bagian pinggirnya diperkuat dengan batu batako.
Adapun ukuran pembuatan bedeng tabur di persemaian CV. Rayani Mandiri sebagai berikut :
Lebar          = 80 cm
Panjang      = 90 cm
Kedalaman = 15 cm
3.2.3 Media Tanaman
        Media yang digunakan oleh CV. Rayani Mandiri pada bedeng tabur yaitu lapisan pertama pasir halus, lapisan kedua sekam kayu kemudian tabur benih dan lapisan terakhir pasir halus kembali. Fungsinya menggunakan media tersebut yaitu agar perakaran dari biji sengon buto (Enterolobium cyclocarpum Griseb) cepat menjalar dan ketika sudah siap untuk disapih akarnya mudah tercabut. Pengadaan benih ini membutuhkan waktu 1 bulan untuk siap dilakukan pemindahan ke polybag.
3.2.4 Penyiraman Benih Pada Bedeng Tabur
         Proses penyiraman diperlukan guna mempermudah perkecambahan pada biji, selain itu penyiraman dapat meningkatkan kelembapan pada tanah. Pada persemaian CV. Rayani Mandiri penyiraman pada bedeng tabur dilakukan 1 kali sehari yaitu sore hari saja. Karena jika bedeng tabur terlalu basah atau lembab maka dapat menyebabkan pembusukan pada benih yang ditabur.
3.2.5 Penyapihan
         Tujuan dari penyapihan adalah untuk memindahkan tanaman yang sudah siap disapih ke dalam polybag agar tanaman tersebut bisa tumbuh dengan baik. Biji sengon buto (Enterolobium cyclocarpum Griseb) sudah siap untuk penyapihan setelah berumur 4-5 minggu.
Pada persemaian CV. Rayani Mandiri kegiatan penyapihan ini perlu teknik khusus dan tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru, pemberian lubang di atas tanah polybag dilakukan dengan hati-hati agar tanah yang berada dalam polybag tidak terhambur. Sebelum semai sengon buto (Enterolobium cyclocarpum Griseb) ditanam ke polybag, perlu dilakukan penyiraman terlebih dahulu. Semai yang akarnya terlalu panjang dipotong setengah agar tidak terlalu panjang jika dimasukan ke dalam polybag.

3.1.6 Penyiangan
       Tujuan untuk membersihkan gulma yang terdapat didalam dan disekitar bedeng bibit sengon buto (Enterolobium cyclocarpum Griseb) yang dapat mengganggu pertumbuhan dan  membunuh tanaman.
Pada persemaian CV. Rayani Mandiri penyiangan dilakukan dengan cara manual yaitu menggunakan parang tebas, hal ini bertujuan untuk mengoptimalkan unsur hara dan menggurangi persaingan pada pertumbuhan bibit.
3.1.7 Penyiraman Bibit pada Bedeng Bibit
         Pada persemaian CV. Rayani Mandiri dalam sehari proses penyiraman dilakukan dua kali yaitu pada jam 8 pagi dan jam 4 sore. Mengingat air merupakan salah satu faktor penting dan sangat berpengaruh terhadap tumbuh dan berkembangnya bibit. Tetapi, kelebihan air juga akan berdampak buruk terhadap bibit, jadi jika musim hujan tiba penyiraman disesuaikan atau dihentikan sementara. Penyiraman bibit dilakukan selama 3-4 bulan hingga bibit siap di pindahkan ke lokasi penanaman.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1   Kesimpulan
      Berdasarkan  hasil praktik umum/magang diperoleh kesimpulan bahwa : Pelaksanaan teknik pembibitan sengon buto (Enterolobium cyclocarpum Griseb) di persemaian CV. Rayani Mandiri yaitu pengadaan bibit, pembuatan bedeng tabur, media tanaman, penyiraman benih pada bedeng tabur, penyapihan, penyiangan dan yang terakhir penyiraman bibit pada bedeng bibit.
4.2 Saran
        Diharapkan pada persemaian CV. Rayani Mandiri agar kegiatan penyiangan pada jenis bibit/anakan semai sengon buto (Enterolobium cyclocarpum Griseb) harus dilakukan lebih intensif, karena banyaknya gulma pada area bedeng bibit dapat mempengaruhi terhadap pertumbuhan bibit/anakan semai sengon buto (Enterolobium cyclocarpum Griseb).
DAFTAR PUSTAKA
Adinugraha, H.A. 2011. Teknik Pembibitan Tanaman Hutan.
Alrasjid H, Ardikusuma RI. 1974. Beberapa Keterangan Tentang E.cyclocarpum
Griseb. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan.
Duladi, 2010. Cara Cerdas Pembibitan Sengon (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen) Kanisius. Yogyakarta
ICRAF. 2006. Tehnik Pembibitan dan Perbanyakan Vegetatif Tanaman Buah.
World Agroforestry Centre. Bogor
Maretina T. 2010. Pengaruh pemberian pupuk NPK dan kompos pada media tailing tambang emas terhadap pertumbuhan semai sengon buto (Enterolobium cyclocarpum Griseb.) [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.
Sastrapradja S, Bimantoro R. 1980. Jenis Kayu Daerah Kering. Boogor:  Lembaga Biologi Nasional.
Siagian MH. 1997. Pembibitan berbagai jenis tanaman reklamasi pada lahan  bekas tambang timah di Pulau Singkep, Riau. Laporan Teknis 1997/1998. hlm 81-87.
LAMPIRAN
 Pengangkutan Bibit

Pemindahan bibit
Audit Tanaman

Previous
« Prev Post