Follow by Email

Cara Menanggulangi Banjir dengan Menjaga Lingkungan sekitar

By On June 08, 2019

Portal Rimbawan - Banjir merupakan salah satu bencana yang setiap tahun sering melanda indonesia. banjir memang seakan sudah akrab bagi masyarakat indonesia. hingga sampai saat ini masalah banjir masih belum sepenuhnya bisa di atasi, Ketidaksadaran akan bahayanya banjir dan penyebab-penyebab terjadinya banjir menjadi penyebab kenapa banjir tersebut setiap tahun melanda Indonesia. Tiap tahun pasti terjadi bencana banjir di beberapa daerah. Ini menunjukkan kestabilan lingkungan Indonesia tidak dalam kondisi baik.

Yang bisa kita lakukan adalah mencegah terjadinya banjir dan juga menanggulangi bencana banjir. Karena walau bagaimanapun banjir merupakan salah satu bencana yang bisa menimbulkan kerugian. Oleh sebab itu sebagai masyarakat perlu untuk meningkatkan kesadaran akan terjadinya banjir. Namun saat ini yang perlu di tingkatkan adalah meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya banjir. Karena banjir sering terjadi akibat masalah sepele seperti, membuang sampah sembarangan hingga menimbulkan penyumbatan. Lalu langkah apa untuk menanggulangi terjadinya banjir?

Cara Menanggulangi banjir
Menjaga lingukungan sekitar

Yang utama adalah menjaga lingkungan sungai atau selokan, sungai sebaiknya di pelihara dengan baik. Jangan membuang sampah ke selokan. Sungai atau selokan jangan di jadikan tempat pembuangan sampah

1. Hindari membuat rumah di pinggiran sungai

Saat ini semakin banyak warga yang membangun rumah di pinggir sungai, ada baiknya pinggiran sungai jangan di jadikan rumah penduduk karena menyebabkan banjir dan tatanan masyarakat tidak teratur.

2. Melaksanakan program tebang pilih dan reboisasi

Pohon yang telah ditebang sebaiknya ada penggantinya. Menebang pohon yang telah berkayu kemudian di tanam kembali tunas pohon yang baru. Hal ini ditujukan untuk regenerasi hutan dengan tujuan hutan tidak menjadi gundul.

3. Buanglah sampah pada tempatnya

Sering kali masyarakat indonesia membuang sampah sembarangan terutama membuang sampah ke sungai, tentu hal ini akan memebrikan dampak buruk di kemudian hari. Karena sampah yang menumpuk bisa menyebabkan terjadinya banjir saat curah hujan sedang tinggi. Pengelolahan sampah yang tepat bisa membantu mencegah banjir.

4. Rajin Membersihkan Saluran Air

Perbaikan dan pembersihan saluran air tentu harus ada. Di wilayah tertentu bisa diadakan secara gotong royong. Penjagaan ini harus dilakukan secara terus menerus dengan waktu berkala. Hal ini bertujuan agar terjadi hujan deras, air tidak akan tersumbat dan mampu mencegah terjadinya banjir.

5. Jangan Tebang Pohon yang dekat dengan DAS

Pohon merupakan faktor utama penyebab terjadinya banjir. Jika pepohonan di hutan atau dipegunungan telah habis ditebang maka konsekuensinya adalah bersiaplah karena banjir hanya menunggu waktu. Untuk itu jaga Pohon yg ada dihutan Indonesia.

6. Perbanyak Daerah Resapan Air

Dengan banyaknya resapan air maka akan mengurangi jumlah volume air ketika hujan datang. Sekarang ini Indonesia memang krisis akan daerah resapan air contohnya seperti Ibukota Jakarta yg terlalu banyak bangunan permanen sehingga sulit untuk air masuk meresap kedalam tanah ketika hujan datang.




PROSES-PROSES DALAM DIKLATDAS PECINTA ALAM

By On June 01, 2019

Portal Rimbawan - Sebagaimana yang kita ketahui, proses pendidikan dan latihan dasar Pecinta alam, sesungguhnya adalah sebuah upaya untuk menurunkan seperangkat nilai-nilai ke pecinta-alaman (value system), kedalam bentuk sistemik agar mampu di implementasikan dengan lebih terukur. Jujur saja hal ini cukup berat dan tidak mudah, karena menyangkut kemampuan kita, untuk mempersepsi nilai-nilai tadi secara keseluruhannya, kemudian membuat fungsi dan struktur sistemik turunannya.

Tidak mudah karena nilai bersifat intengible. Sedangkan perangkat sistemik bersifat lebih terukur ( tengible ) sehingga bisa dievaluasi. Yaitu  melalui variabel dan paramater yang ditetapkan atas dasar kesepakatan bersama ( konvensi ). Namun seberapa sulit hal itu, kita tetap harus melakukan semampunya. Sehingga tujuan dan sasaran dari sistem pendidikan bisa dicapai.

Untuk itu penulis mencoba semampunya, untuk menjabarkannya dengan diagram sederhana seperti dalam gambar.

1. Paradigma.
Dalam hal ini pengertiannya sebagai cara “how to see the world”. Sebuah cara pandang bagaimana kita memandang seluruh realitas dan kejadian di alam semesta ini. Di abad 21 ini terjadi perubahan paradigma ( paradigm shifting ). Yang tadinya menganut pada pandangan Newtonian, yang sangat mengandalkan pada pendekatan materialsitis, mekanistis dan deterministis. Kemudian berubah menjadi lebih holistik ( menyeluruh ), sistemik ( utuh komprehensif ) serta organismik ( tumbuh berdialektika ).
Seraya mengintegrasikan pandangan machoisme yang logis, parsialis, reduksionis, analis dan agresif-ekspansif, dengan pandangan feministik yang mengetengahkan rasa-intuisi, integratif, sintesa, serta lebih ekologis-pemeliharaan. Sehingga terbentuk harmoni, yang sesuai dengan sistem tatadiri alam semesta ini ( Universe Divine Order ).
Salah satu yang paling krusial adalah pandangan bumi dalam totalitasnya, sebagai sebuah organisme hidup. Sesuai dengan hasil penelitian dalam project Gaia.

2. Konsep kebenaran bertingkat.
Sesuai dengan pandangan Kurt Godel pemenang Nobel matematika, tentang kebenaran bertingkat, dimana konten ( sistem ) di dibenarkan oleh konteks ( super-sistem ) yang melingkupinya. Dari pendekatan ini, dapat kita simpulkan tentang kebenaran relatif yang berjenjang . Yaitu kebenaran fakta-empirik (Kebenaran – K4), kebenaran logika-keilmuan (K3), dan kebenaran kolektif (K2), serta berpuncak pada kebenaran mutlak (The Ultimate Truth) yaitu kebenaran dari Tuhan dalam bentuk agama dan tertulis dalam kumpulan wahyu pada Kitab suci (K1), selaku kebenaran paling tinggi.

3. Definisi dan kode etik Pecinta Alam.
Definisi dan kode etik Pecinta Alam haruslah senantiasa mengacu pada konsep kebenaran diatas yaitu dari K1 s/d K4, termasuk cara mempersepsi, membuat deskripsi serta melakukan interprestasinya.
Dalam hal ini definisi Pecinta Alam, sesuai dengan kesepakatan pada kongres ke 2 FK KBPA BR, di Gn Manglayang, berbunyi Pecinta alam adalah “ Sekelompok manusia, yang bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa, terdidik, terlatih, dan bertanggung jawab, serta bertujuan untuk menjaga dan memelihara alam “. Adapun kode etik yang dipakai sesuai dengan rumusan pada Gladian ke IV – 1974 di Makassar.

4. Komponen kurikulum.
Pada saatnya, kode etik harus diturunkan menjadi sebuah  kurikulum, dimana kandungan nilai-nilai normatif tadi harus mampu diturunkan menjadi sebuah sistem yang terkuantifikasi dengan baik . Untuk itu terdapat acuan-acuan pokoknya, yaitu :
• Tinjauan kesisteman
• Metoda Belajar Mengajar
• Materi atau bahan ajaran
• Dll.

5. Tujuan pendidikan
Disamping komponen kurikulum diatas, sebagai referensi, kurikulum harus tetap mengacu pada 4 sokoguru dasar serta tujuannya, yaitu :
• Belajar untuk bertindak ( learn to do )
• Belajar untuk berfikir ( learn to think )
• Belajar untuk bersikap ( learn to be )
• Belajar hidup berkelompok ( learn to live together )

6. Kurikulum baku.
Kurikulum yang dibentuk, harus bersifat mewadahi paradigma, sistem kebenaran, definisi dan kode etik Pecinta alam. Dengan memakai alatnya berupa komponen kurikulum dan kesisteman diatas, untuk mencapai tujuan pendidikan itu sendiri.

7. Sasaran pendidikan.
Salah satu bentuk kuantifikasi tersebut adalah dengan menjabarkan kurikulum tadi kedalam format tahapan, dimana pada setiap tahapan dimaksud, dijelaskan kebutuhan sistem maupun target sasaran kuantitatif yang ingin dicapainya, secara lebih terinci.

8. Tahapan proses.
 Tahapan sebuah proses pendidikan dasar, secara garis besar dibagi menjadi
• Tahap Initial / diskursus internal
• Tahap Perencanaan / blue print systemik
• Tahap Persiapan / pengadaan kebutuhan
• Tahap Pelaksanaan / proses belajar mengajar
• Tahap Evaluasi / test kemampuan peserta
• Tahap pemodelan dan modifikasi system / re-design

9. Elemen ke sisteman
Kesisteman akan senantiasa mengacu pada kebutuhan adanya elemen kesisteman, yang menyangkut pada aspek-aspek adanya : perangkat keras, perangkat lunak, perangkat SDM, perangkat prosedur, perangkat data-informasi dan perangkat dana, yang keberadaannya ditentukan oleh sistem evaluasi secara kontinyu dan konsisten.

10. Tahapan pelaksanaan.
Tahapan sebuah proses pendidikan dasar, secara garis besar dibagi menjadi
• Tahap Initial / diskursus internal
• Tahap Perencanaan / penyiapan blue print sistemik
• Tahap Persiapan / pengadaan kebutuhan
• Tahap Pelaksanaan / proses belajar mengajar
• Tahap Evaluasi / test kemampuan peserta
• Tahap pemodelan dan modifikasi system / re-design

11. Proses dalam tahapan
Runtutan tahapan diatas, semata-mata untuk mewadahi adanya sebuah proses berjenjang, yang dimulai dari masa initial dimana kebutuhan angggota baru dirasakan, yang lalu dijabarkan dalam bentuk tindakan-tindakan lanjutannya yaitu proses-proses :
• Proses Persiapan Internal ( pembentukan struktur staf kolat )
• Proses Pendataan dan Klasifikasi ( pendaftaran calon peserta )
• Proses Penyamaan Persepsi ( pra diklat )
• Proses Peningkatan Kualifikasi ( gunung hutan )
• Proses Penetapan Kompentensi ( masa bimbingan )
• Proses Penentuan Eksistensi ( pengembaraan )
• Proses Pengambilan Posisi ( laporan perjalanan )
• Proses Pembentukan Visi dan Misi ( sidang makalah )
• Proses Penjabaran Rencana-rencana ( pemberian No Reg Anggota baru )

12. Identitas dan integritas
Muara dari seluruh proses adalah pada terdapatnya sejumlah anggota baru hasil pendidikan dasar, yang memiliki identitas diri, serta mengerti dan memahami tentang arti integritas diri. Yang kemudian dijabarkan dalam bentuk visi dan misi organisasi.

13. System evaluasi.
Untuk meneliti tingkatan atau hasil capaian, dibutuhkan sebuah sistem evaluasi dengan pendekatan fidelity ( kebenaran internal / variabel diri sendiri ) serta pre-ordinate ( acuan eksternal variabel dari luar ),

14. Konsistensi.
Sementara evaluasi juga bisa pada variabel dimasa depan. Evaluasi cukup berdasarkan pada adanya konsistensi hasil, terdapatnya fakta serta model empirik didasarkan pada teori bootstrap, dari fisikawan Geofrey Chew.

15. Variabel penguji ktriteria kesisteman.
Apakah sistem bisa diuji pada aspek :
- Kebakuannya / standarisasi
- Kepaduannya / integrated
- Keamanannya / Safety
- Kemudahannya / Praktis
- Kemurahannya / efisien, hemat energi dan resources
- Kesinambungannya / Open system, kompatibilitas

16. Model dan modifikasi.
Kelak pada saatnya, hasil dari evaluasi ini akan menjadi masukan berguna bagi perubahan dan pengembangan modeling sistem pendidikan dasar secara keseluruhan, sehingga proses dialektika terjadi secara alamiah dan harmonis.

17. Feed Back.
Proses dialektika ini adalah suatu keharusan karena layaknya sebuah proses penetapan keilmuan, maka biasanya akan mengikuti tahap :
a. Tahap Mistis, dimana ilmu tersebut masih diselimuti oleh sejumlah mythos-mythos gaib yang penuh misteri, atau seringkali justru dibuat misterius, kadang hanya demi kepentingan eksistensialis sekelompok orang, seperti anggota senior, dewa-dewa kelompok, dsb., sehingga bersifat tertutup.
b. Tahap Ontologis, yaitu ilmu tersebut mulai berusaha untuk menetapkan kaidah-kaidah pokoknya secara logis rasional dan dengan berani mengambil disiplin ilmu lain untuk alat validasinya, sehingga keterbukaan dan dialektika adalah sebuah keniscayaan.
c. Tahap Manfaat, yaitu ilmu kepecinta-alaman mulai dirasakan manfaat positipnya, baik untuk para pelakunya sendiri maupun masyarakat dan komunitas disekelilingnya, baik dalam konteks kawasan maupun wawasan.

Hal ini akan menjadi feedback bagi perubahan sistem itu sendiri ( X )

Tentunya diagram rancangan diatas masih bersifat umum, dan hanya menjadi panduan secara garis besarnya saja. Untuk itu masih dibutuhkan penguraiannya secar detail, sehingga benar-benar bisa di implementasikan di lapangan.

Well brow ...
Selamat berlatih
dengan cara melatih
para generasi penerus

Source : Yat Lessie