Follow by Email

Tips Agar Tidak Mudah Lelah Saat Mendaki

By On April 20, 2019

Portal Rimbawan - Mendaki Gunung memang sudah menjadi hobi yang umum sekarang, terlebih lagi hobi yang satu ini memanglah menyenangkan jika sudah merasakan nikmatnya. Tapi juga jadi hal lumrah kalau mendaki gunung itu melelahkan, bagaimana tidak, selain harus menempuh perjalanan yang jauh, kita juga harus membawa beban yang berat pula.
Berikut beberapa tips agar pendakian terasa nyaman dan kita tidak mudah merasakan lelah.
Berikut kurang lebihnya :

1. PERSIAPKAN FISIK.
Alangkah baiknya sebelum mendaki kita harus mempersiapkan fisik secara baik, entah olahraga atau pemanasan kecil.

2. BARANG BAWAAN.
Atur barang bawaan sebagaimana perlunya, jangan membawa barang yang berlebihan, utamakan barang yang jadi kebutuhan utama dan yang penting saja.

3. PACKING CARIER.
Hal ini juga sangat berpengaruh, karena setting carier akan mempengaruhi kenyamanan kita saat tracking, jadi alangkah baiknya kita harus tau bagaimana setting carier yang baik dan benar.

4. MAKAN & MINUM.
Untuk makanan usahakan yang sekiranya mengandung asupan yang cukup untuk stamina kita, hindari "mie instant".
Dan untuk minum jangan terlalu sering dan berlebihan, atur secukupnya.

5. PELINDUNG TUBUH.
Pakailah pelindung tubuh yang sekiranya menghindari kita dari sengatan langsung sinar matahari, misal jaket, manset, topi, dll. Agar kita tidak mudah dehidrasi.

6. OLAH NAFAS.
Tekhnik pengaturan nafas juga berpengaruh terhadap stamina kita saat mendaki, tekhnik nafas yang benar akan menjaga stabilitas stamina kita.

7. MINDSET.
Saat mendaki, jangan terlalu memikirkan jarak atau terintimidasi tujuan. Buatlah perjalanan kita senyaman mungkin, misalnya bercanda saat perjalananan ataupun mengobrol.

Istilah 'Lepas Adop' Sering Dipakai Untuk Menghalalkan Bisnis Jual Beli Hewan

By On April 20, 2019


Portal Rimbawan - Adopsi hewan peliharaan sebenarnya adalah proses mengambil tanggung jawab atas hewan peliharaan yang telah ditinggalkan atau dilepaskan oleh pemilik sebelumnya, atau dari organisasi yang memiliki tempat penampungan atau penyelamatan (shelter). Ketika anda meng'adopsi' dari peternak (breeders) atau penjual, sebenarnya itu adalah proses jual beli. Tujuannya? Tentu keuntungan.

Hewan yang dijual akan diganti lagi dengan hewan baru hasil pengembangbiakan, dan akan terus begitu apabila masih ada demand. Mereka pada akhirnya hanyalah sekadar komoditi. Anda tahu bahwa tidak sedikit hewan hasil jual beli yang akhirnya juga berakhir di jalanan atau ditelantarkan? Cukup banyak kasus demikian. Banyak juga yang akhirnya menunggu di tempat penampungan.

Adopsi dari shelter adalah pilihan yang lebih baik untuk menghentikan penderitaan yang tidak perlu. Tujuan dari adopsi di sini adalah untuk penyelamatan. Anda bisa memberikan kesempatan kedua dan untuk dua nyawa: hewan yang kamu adopsi dan hewan lain yang dapat diselamatkan karena jadi ada satu tempat lagi di shelter tersebut.

Banyak shelter yang tidak memungut bayaran adopsi, ada juga yang mengharuskan pengeluaran biaya untuk mengganti vaksin dan/atau steril. Biaya tersebut kemudian akan digunakan untuk menghidupi shelter/perawatan hewan lain di sana.

Proses di shelter yang baik memang panjang, biasanya anda akan diminta mengisi formulir dan memberikan janji bahwa hewan tersebut tidak akan ditelantarkan kembali. Semua ini bertujuan agar hewan tersebut benar benar sejahtera sampai akhir hayatnya.

Jika anda tertarik untuk adopsi, cek dengan benar tempat di mana anda memilih hewan tersebut! Cek dan re-check shelter/tempat tersebut, lihat reputasinya, dan pastikan itu adalah proses adopsi yang sebenarnya! Kamu bisa selamatkan banyak nyawa.

Source : @petceteraid

Hipotermia Momok Bagi Para Pendaki

By On April 20, 2019



Portal Rimbawan - Hipotermia adalah salah satu momok yang sering dikhawatirkan para pendaki saat menjejakkan kakinya di gunung. Sudah banyak pendaki yang harus meregang nyawa karena serangan yang terjadi pada ketinggian ini. Mendaki merupakan kegiatan di alam terbuka dan dengan unsur bahaya yang tinggi.

Hipotermia merupakan suatu kondisi dimana tubuh kesulitan mengatur keseimbangan suhu karena tekanan udara yang dingin. Kondisi ini disebabkan suhu bagian dalam tubuh berada dibawah 35C. Sebenarnya, hipotermia membutuhkan waktu yang panjang sebelum berakhir pada bencana fatal dan kematian. Berbeda dengan kasus digigit ular berbisa dimana frame timenya sangat sempit. Tidak seperti hipotermia yang umumnya memberi kita peluang dan waktu dalam memulihkannya.

Kegiatan mendaki ataupun kegiatan di alam terbuka yang lain, keberadaan pedamping berpengalaman memang sangat diperlukan. Pengetahuan dan pengalamannya sangat dibutuhkan pada saat-saat yang kritis. Jadi, kegiatan mendaki tidak selalu soal puncak tetapi juga merupakan petualangan yang juga disertai transfer ilmu dan konsep keselamatan.

Gejala hipotermia untuk gunung-gunung di wilayah tropis, seperti Indonesia, umumnya terjadi karena tereksposnya tubuh secara langsung pada udara disekelilingnya yang memang dingin. Biasanya karena baju selaku isolator panas, terkena air dan basah, sehingga berubah menjadi konduktor panas. Lalu suhu tubuh terus menerus turun, karena panasnya terhisap oleh udara di sekelilingnya. Hipotermia biasanya diawali dengan berupa kedinginan biasa, badan yang menggigil, gemetar menahan dingin, kadang hingga gigi saling beradu ketika tidak kuat menahan dingin.

Pendaki Muda Asal Sulawesi Utara Meninggal dunia Karena Hipotermia di Gn. Sumbing 3371 MDPL

By On April 08, 2019

Portal Rimbawan - Sabtu 6 April 2019, telah ditemukan oleh team SAR, jenazah seorang pendaki muda belia.

Pendaki yang Meninggal tersebut Bernama Fatur Rohman, berumur 16 tahun, Remaja asal Kelurahan Kambowa Kecamatan Kambowa Kabupaten Buton Utara, Sulawesi Utara.

Ditemukan tepat dibibir puncak gunung Sumbing, pada ketinggian 3371 mdpl. Temannya yang 3 orang, semua bisa diselamatkan dari serangan hipotermia yang mematikan.

Hampir sebulan yang lalu, tepatnya 3 maret 2019, di gunung Tampomas, musibah serupa terjadi. Kali ini tidak tanggung, jumlah korbannya 3 orang. Bernama Ferdi 13 tahun, Lucky 13 tahun dan Agip yang tertua berusia baru 15 tahun saja.

Hanya dalam tempo sebulan, 4 orang anak-anak belia berusia belasan tahun ini, harus meregang nyawa, ditempat sunyi jauh diketinggian sana. Dengan ciri ciri yang sama, yaitu disergap oleh ancaman paling mematikan untuk setiap pendaki, berupa serangan hipotermia. Kehilangan panas tubuh yang akut, sampai pada sebuah momen, dimana nyawa tak lagi mampu tersangkut di badan. Mereka semua harus dievakuasi dalam kantung jenazah.

Hipotermia umumnya membutuhkan waktu yang cukup panjang, sebelum berujung pada bencana fatal dan kematian. Berbeda dengan kasus dipatuk ular berbisa seperti king kobra contohnya. Frame time nya sangat sempit. Dimana jika telat atau salah dalam penanganan awal dalam menit-menit pertama, bisa berujung pada ke fatalan. Seperti juga kecelakaan tertimpa longsoran batu di tebing, frame-time nya juga bisa sangat pendek, sehingga membutuhkan penanganan ke daruratan yang bersifat segera.

Namun tidak dengan hipotermia. Umumnya memberi kita peluang waktu yang lumayan panjang, sebelum masuk pada kondisi yang paling kritis. Dalam pengertian, jika gejala-gejala awalnya sudah bisa dikenali, maka langkah-langkah pengamanannya bisa segera dilakukan. Sehingga tingkat ke gawat-daruratan bisa dicegah. Baik oleh survivor sendiri, maupun sesama teman dalam team.

Gejala hipotermia untuk gunung-gunung di wilayah tropis, seperti Indonesia, umumnya terjadi karena tereksposnya tubuh secara langsung pada udara disekelilingnya yang memang dingin. Biasanya karena baju selaku isolator panas, terkena air dan basah, sehingga berubah menjadi konduktor panas. Lalu suhu tubuh terus menerus turun, karena panasnya terhisap oleh udara di sekelilingnya.

Berbeda dengan jenis hipotermia untuk para pendaki gunung-gunung tinggi. Istilah tubuh yang “dingin” umumnya bukan karena ekspose, tapi kekurangan oksigen, sehingga pembakaran makanan dalam sel, guna menghasilkan kalori menjadi terhambat.

Empat orang korban meninggal dalam waktu sebulan, dalam usia yang sangat belia, membuat kita bertanya tanya. Yaitu tidak adanya langkah-langkah pencegahan. Jikapun kata “pembiaran” dianggap terlalu menohok pihak-pihak tertentu, yang seharusnya punya otoritas untuk me “nyortir” para petualang belia ini, tepat di lokasi pos jaga dan pendaftaran. Seperti penjaga karcis di bioskop, jika filmnya mengandung unsur X, maka hanya penonton yang berusia 18+ saja yang boleh masuk.

Untuk kegiatan di alam terbuka, dengan unsur bahaya yang tinggi. Maka keberadaan pendamping yang berpengalaman menjadi sebuah keharusan. Sebuah perjalanan petualangan dan  pioneering yang tetap menarik minat, namun juga disertai dengan tranfer of knowledge, dan tentu saja konsep safety always come first.

Pengetahuan ini idealnya diberikan disekolah. Seperti yang didapat di sispala, pramuka, pmr, dsb. Sedang untuk umum, bisa juga disalurkan melalui media karang taruna. Dimana anggota sispala dan mapala terjun langsung ke masyarakat di sekitar rumahnya, dan menyebarkan ilmu ini pada sesama generasi muda. Dengan memakai pendekatan kegiatan seperti kemah bersama, camping ground, wisata alam, dll., agar sedikit demi sedikit masyarakat bisa paham, bahwa kegiatan di alam terbuka, bukan hanya butuh tenda dan selimut tebal, namun terlebih lagi ilmunya .

Bermain main dengan gunung, layaknya bermain dengan ketinggian. Semakin tinggi anda naik, semakin tinggi pula anda bisa jatuh. Hanya dengan memakai 2 variabel saja, yaitu suhu dan tekanan udara, resikonya bukan hanya celaka, bahkan nyawa. Padahal ada sekian banyak variabel lainnya, baik yang bersifat subjektif danger ( internal individual ), maupun objektif danger ( eksternal alam ), yang semuanya berbicara tentang hukum-hukum ketidak-pastian belaka.

Tak usah takut dicap tidak gaya, tidak hebat, tidak jagoan, saat kita harus duduk sejenak. Saat kita harus tinggal selang beberapa waktu, sekian jam, sekian hari, untuk aklimatisasi tubuh. Mendaki gunung bukanlah balapan motogp.

Tak usah takut dicap tidak sekuat samson, ketika banyak minum air. Tak usah takut di cap reyot, saat berhenti ditengah jalan, dan menghirup napas dalam-dalam, untuk membuang kunang-kunang yang berputar diatas kepala.

Tak usah takut dicap penakut, ketika semua barang dan peralatan, termasuk obat-obat kita cek ulang. Karena diatas gunung sana, dijamin tak bakalan ada puskesmas untuk pengobatan gawat darurat.

Tak usah takut dicap kuper, enggak gaul, ketika artikel ini dibaca. Ketika buku-buku tentang P3K tentang PPGD, tentang manajemen kesehatan dan perjalanan, diteliti dan dipahami isinya.

Ketimbang kelak harus diganti oleh satu satunya Selembar nyawa ...

Source : Yat Lessie

Viral! Ditemukan Sampah Plastik Berusia 21 Tahun dan Masih Utuh

By On April 07, 2019

Portal Rimbawan - Sebuah Sampah Mie Instan ditemukan oleh seorang Nelayan di tepi pantai.

Tahukah anda mengapa sampah ini berkesan?

Ya, Sampah ini ternyata sudah berusia 21 tahun. Sampah tersebut diduga dibuang pada saat indonesia dirgahayu ke 55 sekarang telah memasuki dirgahayu ke 74.
Sampah ini diperkirakan di buang pada tahun 1998 dan masih utuh sampai sekarang.

Membuang sampah ke Laut merupakan hal yang harus diperhatikan pemerintah dan juga masyarakat. Kenapa,  karena di laut tidak ada zat atau bakteri yang dapat mengurai sampah-sampah plastik tersebut. Dalam sebuah penelitian menggemukakan bahwa sampah plastik hanya akan hancur pada tahun ke 200. Yang lebih membahayakan lagi adalah sampah botol karena memerlukan waktu hingga 1000 tahun atau 1 abad lamanya baru dapat terurai.

Masih mau buang sampah ke Laut?

Masalah sampah memang tidak asing oleh Negara Indonesia, Karena pada 2018 Indonesia tercatat negara penghasil Sampah nmor 2 Dunia.

Siapakah yang perlu disalahkan?
Tentunya kita semua. Mari kita jaga lingkungan kita agar terhindar dari sampah. Bukan hanya pada daratan tapi Laut pun juga jangan sampai tercemari sampah. Karena sudah terlalu banyak Ikan Besar mati karena menelan sampah. Miris memang.

Kurangi penggunaan Plastik dalam kegiatan sehari-hari. Karena Sampah Plastik membutuhkan waktu yang lama untuk terurai atau hancur. Bahkan waktu 21 tahun tidak cukup untuk menguraikan sampah mie instan seperti kasus yang kita bahas diatas.



Apa Kabar Irigasi Tommo? Riwayatmu Kini.....

By On April 02, 2019



Portal Rimbawan - Irigasi Tommo berlokasi di Desa Campaloga Kecamatan Tommo Kabupaten Mamuju, Proyek pengerjaan Irigasi ini dimulai Pada tahun 2009 dan digadang-gadang akan rampung pada 2015, tetapi pada tahun 2015 proyek itu masih terbengkalai dan dilanjutkan lagi pada 31 januari hingga 31 November 2017.

Sekarang sudah 2019 artinya Proyek itu telah berusia 10 tahun dimulai dari Pengerjaan awal proyek. Yang rencananya akan mengairi 2.500 hektar sawah yang membentang sepanjang kec. Tommo dan Kec. Pangale.

Masyarakat juga menanyakan akan kualitas dari pengerjaan proyek tersebut, dimana banyak saluran air yang berlubang (rusak sedang hingga parah) dan juga ditumbuhi rumput karena kurangnya perawatan padahal anggaran proyek ini menelan anggaran RTRW ratusan milyar. Pro kontra pun muncul tapi hingga saait ini Pemerintah pusat belum juga memerhatikan keluhan dari masyarakat.
 
Luas lahan yang akan digunakan untuk pembangunan proyek ini adalah 537.725 meter persegi, dengan panjang saluran 2.500 hektare. Jumlah pemiliki lahan yang dibebaskan mencapai 248 kepala keluarga. Dari keterangan yang diperoleh dari Satuan Kerja (Satker) Irigasi, lama pengerjaan irigasi ditargetkan selama tiga setengah tahun.
 
Apakah proyek ini sarat akan korupsi?
 
Berikut Profil Pengerjaan dari Proyek Bendungan Irigasi Tommo :

NAMA PROJEK : PEMBANGUNAN IRIGASI TOMMO
LOKASI : Tommo, Kab. Mamuju Prov. Sulbar
WAKTU Waktu Projek : 2009-2015 dilanjutkan 31 Januari- 31 November 2017

Ø ASPEK PERENCANAAN DAN PELAKSANA
Tahapan perencanaan dan pelaksanaan meliputi:
a. Studi awal: ide untuk pengembangan irigasi pertanian dan perkiraan luas D.I,
b. Studi identifikasi: menentukan nama & luas, garis besar skema irigasi alternatif, pemberitahuan ke instansi pemerintah, serta fihak lain yeng terlibat dalam proyek tsb.
c. Studi pengenalan: kelayakan teknis, komponen dan aspek multisektor, penjelasan mengenai aspek-aspek yang belum dapat dipecahkan selama identifikasi, penentuan ruang lingkup studi, pekerjaan lapangan dan kantor (oleh orang-orang yang sesuai disiplin ilmu).
d. Studi kelayakan: analisis teknis dan ekonomi, definisi proyek & prasaran yang diperlukan, mengajukan program pelaksanaan, ketepatan yang disyaratkan, perlu pengukuran topogrfi, geotek dan kualitas tanah ekstensif.
e. Tahap perencanaan pendahuluan : pengukuran (peta topografi, penelitian kemampuan tanah); perencanaan pendahuluan : menentukan letak bangunan, tata letak jaringan, petak tersier, tipe bangunan, trase saluran, jaringan dan bangunan pembuang, termasuk analisis hidrologi (waterbalance).
f. Tahap perenacaan akhir: pengukuran & penyelidikan hidrometri/hidrologi; topografi; geologi teknik; model hidrolis, laporan akhir.

Ø Kontrak Proyek
Penandatangan kontrak paket pekerjaan irigasi Tommo sub project Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat) akhirnya terwujudkan yang disaksikan Gubernur Sulbar, Anwar Adnan Saleh, di Mamuju, Selasa.
 
Penandatangan kontrak irigasi Tommo sub projek 2.500 Ha Kabupaten Mamuju, dilaksanakan antara Pejabat pembuat Komitmen (PPK) Irigasi pada SNVT selaku pelaksana pengelola Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang Provinsi Sulbar dengan pihak perusahaan masing-masing PT Wijaya Karya dan PT Duta Graha Indah.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Jeneberang Provinsi Sulbar, Ir. Prasetyio, mengatakan, paket proyek irigasi yang ditandatangi ini termasuk luar biasa, karena nyaris seluruh pejabat penting yang ada di daerah ini ikut menyaksikan penandatanagan termasuk gubernur, wakil gubernur dan sekretaris provinsi. "Kami menilai penandatangan kontrak ini adalah pengalaman baru karena dihadiri seluruh pejabat dibanding dengan daerah-daerah lain," tuturnya. Ia mengatakan, ini menunjukkan keseriusan pemprov Sulbar untuk menyukseskan program pembangunan irigasi di wilayah kecamatan Tommo sekitar 45 kilometer dari ibukota Mamuju.
Wilayah Tommo adalah salah satu daerah yang memiliki potensi lahan pertanian di Sulbar yang hingga saat ini masih mengandalkan curah hujan sebagai sumber utama untuk mengairi sawah para petani yang ada di wilayah itu.
Oleh karena itu, dengan penandatanagan paket kontrak ini telah dilaksanakan, maka diharapkan pembangunan irigasi Tommo itu dapat segera dibangun yang ditargetkan dapat selesai hingga awal Mei 2012 mendatang.
Pembangunan irigasi ini telah dilakukan review singkat terhadap daerah irigasi Tommo yang kemudian dimasukkan sebagai salah satu calon program yang akan dilaksanakan pada proyek bendungan tersebu

Ø Konflik atau Permasalahan
Irigasi yang terletak di Kec, Tommo Kab. Mamuju Prov. Sulbar rusak parah, padahal proyek ini menelan anggaran yang cukup fantastis mencapai miliaran rupiah. Yang rencananya akan mengairi 2.500 hektar sawah yang membentang sepanjang kec. Tommo dan Kec. Pangale.

Kualitasnya pun dipertanyakan warga, sebab proyrk irigasi ini belum selesai masa pemeliharaan , itu sudah banyak yang bolong, longsor, dan retak, sehingga mengancam sawah dan permukiman warga jika air meluap. Proyek yang dikerjakan BUMN ini dimulai dari tahun 2009 dan baru akan selesai pada 2015, cukup lama masa pengerjaannya. Tapi hingga 2019 ini irigasi ini belum berfungsi juga. Sehingga banyak yang menduga ada yang tidak benar, tidak sesuai perencanaan, sehingga harus diusut tuntas demi penyelamatan uang Negara dan asas manfaat proyek untuk rakyat.


source : katinting