Follow by Email

Makalah Peran Pengembangan Kurikulum


BAB I
PENDAHULUAN
A.                Latar Belakang
Pada hakikatnya tujuan penddidikan agama islam adalah mengembangkan kemampuan anak didik untuk meningkatkan iman dan takwa kepada allah SWT dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam hal ini peran guru agama sangat penting guna mentransfer ilmu yang mereka miliki untuk membantu anak didik berkembang lebih baik sesuai dengan norma-norma agama yang berlaku.Tetapi, peranan pembentukan akhlak anak didik tidak hanya menjadi tanggung jawab guru agama saja, melainkan guru lain serta orang tua juga ikut berperan dalam pembentukan akhlak anak, terlebih orang tua.
Berhubung dengan hal diatas, terkait dengan pengembangan kurikulum yang ada, memang banyak sebagian dari guru-guru agama sekitar kita mengeluh dengan kurangnya sosialisasi tentang KTSP kurikulum agama. Kebingungan terjadi, terkait dengan silabus dan form RPP KTSP, serta materi ajar yang tidak sesuai. Hal ini membuktikan bahwa sampai detik ini KTSP yang sudah dimulai sejak tahun 2006 dan disosialisasikan sekitar tahun 2007 belum terealisasi dan tersosialisasikan secara maksimal kepada guru-guru selaku pelaksana pendidikan.
Pengembangan kurikulum pendidikan agama, perlu adanya tinjauan ulang dan segera membuat gebrakan baru terkait melakukan gerak cepat sosialisasi secara menyeluruh tentang KTSP pendidikan agama guna pembenahan sistem intruksional yang lebih berbobot dan mengena pada sasaran, sehingga tujuan pendidikan agama dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan, sebagai akar pembentukan akhlak anak didik. Hal ini bertujuan untuk mempermudah pemaahaman anak didik tentang pelajaran agama yang membutuhkan peneliti dilaboratorium. Tetapi sampai detik ini mungkin belum terpikir oleh pihak sekolah-sekolah atau madrasah tentang manfaat dan pentingnya sebuah laboratorium agama. Hal ini dapat menjadikan motivasi belajar siswa untuk lebih dalam mempelajari mata pelajaran agama, jadi tidak hanya sekedar ceramah tapi bisa langsung mempraktikan dilaboratorium mata pelajaran yang diperlukan untuk praktik. Inilah sebagian titik lemah yang ada pada kurikulum pendidikan agama.
Dalam perkembangan suatu negara tergantung pada mutu suatu pendidikan, karena pendidikan merupakan salah satu penunjang dalam perkembangan negara, dalam perkembangan modernisasi ini negara kita ingin mencoba ikut berpartisipasi dalam mengembangkan pendidikan seperti negara-negara maju khususnya.
Sebuah kurikulum tidak hanya sekedar instruksi pembelajaran yang disusun pleh pemerintah untuk diterapkan di sekolah masing-masing. Sinclar (2003) menegaskan bahwa kurikulum yang baik adalah yang memberi keleluasaan bagi sekolah untuk mengakomodasikan kebutuhan-kebutuhan khusus peseta didik sesuai tuntutan masyarakat.
B.                 Rumusan Masalah
1.        Apa pengertian kurikulum?
2.        Apa peran perkembangan kurikulum Secara umum?
3.        apa saja Peran Perkembangan kurikulum di Sekolah?

BAB II
PEMBAHASAN
A.        Pengertian Kurikulum
Kurikulum adalah suatu program pendidikan yang berisikan berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar yang diprogramkan, direncanakan dan dirancangkan secara sistematik atas dasar norma-norma yang berlaku yang dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran bagi tenaga kependidkan dan peserta didk untuk mencapai tujuan pendidikan.
Kurikulum merupakan unsur penting dalam dunia pendidikan di Indonesia. Secara harfiah, kurikulum adalah perangkat pembelajaran yang dikeluarkan oleh sebuah lembaga dan harus menjadi pedoman dalam pelaksanaan proses belajar-mengajar di sekolah-sekolah. Berdasarkan catatan sejarahnya, unsur penting dalam pendidikan ini telah beberapa kali mengalami perubahan (yang terakhir adalah K13). Tentu saja kehadiran K13 ini merupakan bagian dari usaha dalam mewujudkan sistem pendidikan yang terbaik bagi putra-putri Indonesia. K13 memiliki beberapa komponen dan fungsinya tersendiri dalam dunia pendidikan. Berikut beberapa komponen dan fungsi dari K13 yang dapat dipelajari.
Dalam undang-undang sistem pendidikan nasional tahun 1989 BAB 1 pasal 1 disebutkan bahwa “ kurikulum adalah seperangkat rencana dan peraturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggara kegiatan belajar mengajar”.
B.        Peranan Kurikulum Secara Umum
Pada dasarnya kurikulum merupakan refleksi dari kebudayaan dimana kurikulum itu berada. Dengan memperhatikan struktur suatu kebudayaan, lebih memperjelas lagi untuk membedakan suatu kurikulum yang satu dengan yang lainnya yaitu kurikulum yang menggambarkan hal-hal yang bersifat pendidikan umum dan yang bersifat pendidikan khusus.
Dalam upaya menerapkan, mengimplementasi dan mengelola kurikulum, Peranan-peranan kurikulum sangatlah penting dan perlu dilaksanakan secara bersamaan dan berkesinambungan :
1.         Peranan konservatif
Kebudayaan telas ada lebih dahulu dari pada lahirnya suatu generasi tertentu dan tidak akan mati dengan habisnya generasi yang bersangkutan. Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah laku, bahkan kebudayaan terwujud dan didirikan dari perilaku manusia. Kebudayaan mencaakup aturan yang berisikan kewajiban dan tindakan-tindakan yang diterima dan ditolak atau tindakan yang dilarang dan yang diizinkan. Semua kebudayaan yang sudah membudaya itu harus ditransmisikan kepada anak didik selaku generasi penerus. Oleh karena itu, semua ini menjadi tanggung jawab kurikulum dalam menafsirkan dan mewariskan nilai-nilai budaya yang mengandung makna dalam membina perilaku anak didik. Sekolah sebagai lembaga sosial sangat berperan dalam mempengaruhi perilaku anak sesuai dengan nilai-nilai sosial yang ada dalam masyarakat. Jadi kurikulum bertugas menyimpan dan mewariskan nilai-nilai budaya.
Maksudnya adalah mentransmisikan dan menafsirkanwarisan sosial kepada anak didik atau generasi muda. Sekolah berperan penting dalam mempengaruhi dan membina tingkah laku anak sesuai dengan nilai-nilai sosial yang ada dalam lingkungan masyarakat.
2.         Peranan Kreatif
Modal dasar yang sangat utama dalam menggali pengalaman belajar yang memiliki makna tersendiri dan selalu akan berkembang sesuai dengan zamannya yaitu bersumber dari unsur-unsur lapisan sosial., pengelompokan sosial, sistem kelembagaan di dalam kehidupan masyarakat. Dalam hal ini kurikulum harus mampu melakukan kegiatan-kegiatan kreatif dalam konstruktif, dalam arti harus menyusun atau mendesain pengalaman belajar yang bersumber dari masyarakat dan dibuat dalam bentuk mataa pelajaran yang akan disajikan pada anak didik. Upaya ini dapt membantu mengembangkan semua potensi yang ada pada anak didik. Dengan demikian, kurikulumdiharapkan akan dapat membawa para siswa menuju masyarakat yang berbudaya. Ini berarti, bahwa kurikulum harus mampu mendorong dan mebuat para siswa berkembang daya kreatifnya.
Kurikulum dapat menciptakan dan menyusun sesuatu yang baru sesuai dengan kebutuhan masa sekarang dan masamendatang dalam masyarakat.
3.         Peranan kritis dan evaluatif
Mempelajari lembaga-lembaga kemasyarakatan yang penting didalam masyarakat yang bersangkutan akan mempunyai hal yang berbeda antara yang satu dengan yang lain ini terbukti karena kebudayaan suatu masyarakat daari waktu ke waktu berikutnya akan selalu berkembang, berubah dan bertambah. Sedangkan sekolah sebgai pusat budaya sosial yang berperan dalam mewariskan norma-norma budaya masyarakat tidak hanya sampai di situ, melainkan upaya peran untuk memilih unsur-unsur kebudayaan. Selanjutnya klasifikasi yang siap untuk dievaluasi dijadikan bahan-bahan pengalaman belajar dengan didesain menjadi mata pelajaran. Karena itu kurikulum amat berperan aktif sebagai kontrol sosial dan menekankan pada unsur berfikir kritis dimana nilai-nilai sosial yang tidak sesuai dengan perkembangan teknologi disisihkan dan yang sesuai ditata untuk siap diorganisasikan menjadi bentuk pengalaman belajar yang mampu mengembangkan sikap kritis anak ke arah pembentukan pribadi yang terintegrasi dengan kehidupan nyata dimasyarakat. Jadi kurikulum adalah alat untuk menilai dan sekaligus memperbaiki masyarakat.
Kurikulum selain mewariskanatau mentransmisikan nilai-nilai generasi mudajuga sebagai alat untuk mengevaluasi kebudayaan yang ada
C.        Peran Pengembangan Kurikulum Sekolah
1.         Peran Kepala Sekolah Dalam Pengembangan Kurikulum
Dalam memberdayakan masyarakat dan lingkungan sekitar, kepala sekolah merupakan kunci keberhasilan yang harus menaruh perhatian tentang apa yang terjadi pada peserta didik di sekolah dan apa yang dipikirkan orang tua dan masyarakat tentang sekolah. Kepala sekolah dituntut untuk senantiasa berusaha membina dan mengembangkan hubungan kerja sama yang baik antara sekolah dan masyarakat guna mewujudkan sekolah yang efektif dan efisien. Hubungan yang harmonis ini akan membentuk 1) saling pengertian antara sekolah, orang tua, masyarakat, dan lembaga-lembaga lain yang ada di masyarakat, 2) saling membantu antara sekolah dan masyarakat karena mengetahui manfaat, arti dan pentingnya peranan masing-masing. 3) kerja sama yang erat antara sekolah dengan berbagai pihak yang ada di masyarakat danmereka merasa ikut bertanggung jawab atas suksesnya pendidikan di sekolah.
Kepala sekolah profesional tidak saja dituntut untuk melaksanakan berbagai tugasnya disekolah, tetapi ia juga harus mampu menjalin hubungan/kerja sama dengan masyarakat dalam rangka dalam membina pribadi peserta didik secara optimal.
Peranan kepala sekolah dalam menggerakkan kehidupan sekolah sangatlah penting, maka dari itu ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam rumusan tersebut:
a.       Kepala sekolah berperan sebagai kekuatan sentral yang menjadi kekuatan penggerak kehidupan sekolah.
b.      Kepala sekolah harus memahami tugas dan fungsi mereka demi keberhasilan sekolah, serta memiliki kepedulian kepada staf dan siswa.

Sesuai dengan ciri-ciri sekolah sebagai organisasi yang bersifat kompleks dan unik, tugas dan fungsi kepala sekolah seharusnya dilihat dari berbagai sudut pandang. Dari sisi tertentu kepala sekolah dapat dipandang sebagai pejabat formal, sedangkan dari sisi yang lain seorang kepala sekolah dapat berperan sebagai menejer, pemimpin, pendidik dan yang tidak kalah penting seorang kepala sekolah juga berperan sebagai staf.
2.         Peran Guru Dalam Pengembangan Kurikulum
Guru adalah profesi yang sangat strategis dan mulia. Inti tugas guru adalah menyelamatkan masyarakat dari kebodohan, sifat, serta prilaku buruk yang menghancurkan masa depan mereka. Tugas tersebut merupakan tugas para nabi, tetapi karena nabi sudah tidak ada, tugas tersebut menjadi tugas guru. Jadi, guru adalah pewaris nabi. Sebagai pewaris nabi, guru harus memaknai tugasnya sebagai amanat Allah untuk mengabdi kepada sesamanya dan berusaha melengkapi dirinya dengan empat sifat utama para nabi, yaitu sidiq (benar), amanah (dapat dipercaya), tabliq (mengajarkan semuanya sampai tuntas), fathanah (cerdas). Apabila keempat sifat tersebut ada pada guru, guru pasti akan dapat melaksanakan tugasnya secara professional.
Peranan dan tugas yang diemban guru sangat berat. Tugas guru tidak hanya mengajar, tetapi juga harus dapat mendidik, membimbing, membina, dan memimpin kelas. Sedangkan kalau dilihat dari pengelolaanya, pengembangan kurikulum dapat dibedakan antara yang bersifat sentralisasi, dan desentralisasi. Kurikulum bersifat uniform untuk seluruh negara, daerah, atau jenjang sekolah.
Tujuan utama pengembangan kurikulum yang bersifat uniform ini adalah untuk menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa, serta memberikan standar penguasaan yang sama bagi seluruh wilayah.
a.                   Peranan Guru dalam pengembangan kurikulum yang bersifat sentralisasi
Dalam kurikulum yang bersifat sentralisasi, guru tidak mempunyai peranan perancangan, dan evaluasi yang bersifat makro, mereka lebih berperan dalam kurikulum mikro. Kurikulum makro disusun oleh tim atau komisi khusus, yang terdiri atas para ahli. Penyusunan kurikulum mikro dijabarkan dari kurikulum makro. Tugas guru yaitu menyusun bahan pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan, minat dan tahap perkembangan anak, memiliki metode dan media mengajar yang bervariasi, serta menyusun program dan alat evaluasi yang tepat.
Guru juga berkewajiban untuk menjelaskan kepada siswanya tentang apa yang akan di capai dengan pengajarannya. Ia juga hendaknya melakukan berbagai upaya untuk membangkitkan motivasi belajar, menciptakan situasi kompetitif dan koperatif, memberikan pengarahan dan bimbingan. Guru memberikan tugas-tugas individual atau kelompok yang akan memperkaya dan memperdalam penguasaan siswa. Dalam kondisi ideal guru juga berperan sebagai pembimbing, berusaha memahami secara seksama potensi dan kelemahan siswa, serta membantu memahami kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa.
b.         Peranan Guru dalam pengembangan kurikulum yang bersifat desentralisasi
Kurikulum desentralisasi disusun oleh sekolah ataupun kelompok sekolah tertentu dalam suatu wilayah ataupun daerah. Kurikulum ini diperuntukkan bagi suatu sekolah atau lingkungan wilayah tertentu. Pengembangan kurikulum semacam ini didasarkan atas karakteristik, kebutuhan, perkembangan daerah serta kemampuan sekolah.
Bentuk kurikulum seperti ini mempunyai beberapa kelebihan disamping itu juga mempunyai kekurangan. Kelebihan-kelebihannya diantaranya (1) kurikulum sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat setempat, (2) kurikulum sesuai dengan kemampuan tingkat sekolah, baik kemampuan professional, finansial maupun manajerial, (3) ada motivasi kepala sekolah untuk mengembangkan diri, mencari dan menciptakan kurikulum yang sebaik-baiknya, dengan demikian akan terjadi semacam kompetisi dalam pengembangan kurikulum. Dalam hubungannya dengan aktivitas pembelajaran administrasi pendidikan, guru berperan sebagai berikut:
Ø  Mengambil inisiatif, pengaruh dan penilaian pendidikan.
Ø  Wakil masyarakat disekolah, artinya guru berperan sebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan.
Ø  Seorang pakar dalam bidangnya, yaitu menguasai bahan yang harus diajarkan.
Ø  Penegak disiplin, yaitu guru harus menjaga agar para siswa melaksanakan disiplin.
Ø  Pelaksana administrasi pendidikan, yaitu guru bertanggung jawab agar pendidikan dapat berlangsung dengan baik.
Ø  Pemimpin generasi muda, artinya guru bertanggung jawab untuk mengarahkan perkembangan siswa sebagai generasi muda yang akan menjadi pewaris masa depan.
Ø  Penerjemah kepada masyarakat, yaitu guru berperan untuk menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat.
Syamsuddin mengemukakan bahwa dalam pengertian pendidikan secara luas, seorang guru yang ideal dapat berperan sebagai berikut:
Ø  Konservator (pemerihara) sistem nilai yang merupakan sumber norma kedewasaan.
Ø  Inovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan.
Ø  Transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut kepada siswa.
Ø  Transformator (penerjemah) sistem-sistem nilai tersebut melalui penjelmaan dalam pribadinya dan perilakunya, dalam proses interaksi dengan sasaran didik.
Ø  Organisator (penyelenggara) terciptannya proses edukatif yang dapat di pertanggung jawabkan, baik secara formal (kepada pihak yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral (kepada sasaran didik, serta tuhan yang menciptakannya).
Di lain pihak, surya (1997) mengemukakan tentang peranan guru di sekolah, keluarga, dan masyarakat. Di sekolah, guru berperan sebagai perancang pembelajaran, pengelola pembelajaran, penilai hasil pembelajaran siswa, pengarah pembelajaran dan pembimbing siswa. Dalam keluarga, guru berperan sebagai pendidik dalam keluarga (family educator). Sementara itu masyarakat, guru berperan sebagai Pembina masyarakat (social developer), penemu masyarakat (social inovator), dan agen masyarakat (social agent). 
3.         Peranan Komite Sekolah Dalam Pengembangan Kurikulum
Komite sekolah sebagai salah satu pengembang kurikulum ini tidak terlepas dari empat perannya sebagai berikut:
a.       Advisory agency, yaitu pemberi pertimbangan dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan sekolah.
b.      Suporting agency, yaitu pendukung baik berwujud finansial, pemikiran, maupun tenaga, dalam penyelenggaraan pendidikan sekolah.
c.       Controlling agency,  yaitu pengontrol dalam rangka transparansi dan akuntabelitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan sekolah, serta
d.      Mediate agency,  yaitu mediator antara pemerintah dan masyarakat.

Sebagai  advisory agence , komite sekolah dapat memberikan atau menyampaikan gagasan, usulan-usulan, atau pertimbangan-pertimbangan untuk penyempurnaan kurikulum sekolah yang lebih baik. Gagasan, usulan, dan pertimbangan ini pada dasarnya dapat diarahkan kepada semua komponen kurikulum, struktur program kurikulum, dll. Walaupun secara pokok sudah tersedia kurikulum tingkat nasional, namun masih terbuka bagi pihak sekolah untuk melakukan eksplorasi, pengembangan, penajaman-penajaman, serta dikemas dalam program inti ataun program tambahan, kegiatan intrakulikuler ataupun ekstrakulikuler. Dalam peran advisory agence ini pulalah komite sekolah terlibat dalam pengesahan kurikulum.
Terkait dengan peran sebagai advisory agence maka komite sekolah berada dalam komitmen lanjutan. Muncullah peran berikutnya, yaitu suporting agence. Pengembangan kurikulum berkait dengan banyak persoalan, baik yang langsung maupun tidak langsung, yang bersifat manusia dan nonmanusia. Dalam hal ini dukungan komite sekolah dapat berwujud finansial, pemikiran, maupun tenaga.
Sebagai controlling agency komite sekolah melakukan kontrol atas penyelenggaraan program pendidikan. Transparansi dan akuntabelitas penyelenggaraan dan hasil pendidikan sekolah harus diwujudkan. Kerena masyarakat adalah pengguna jasa pendidikan dan melaui konsep suporting agence menjadi terlibat aktif, maka kepada masyarakat pulalah harus dibuka kesempatan untuk melakukan kontrol.
Dalam konteks pengembangan kurikulum, peran kontrol komite sekolah ini bisa pula diarahkan sebagai pengawas, misalnya, apakah proses pengembangan yang ditempuh sudah memenuhi norma atau ketentuan sebagaimana seharusnya, apakah pengembangan kurikulum telah memperhatikan dan melibatkan pihak-pihak yang terkait, apakah sudah terukur untuk kemajuan anak dan sebagainya. Peran ini harus dapat diterpkan agar pengembangan kurikulum benar-benar komprehensif.
Sebagai midiate agency  komite sekolah bertindak sebagai mediator antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat. Pengembangan kurikulum secara baik menuntut keterlibatan dan tanggung jawab semua pihak, karena memang dasrnya urusan npendidikan tidak dapat diserahkan pada pemerintah (dinas pendidikan) dan sekolah saja.
Komite sekolah dibentuk di setiap sekolah sebagai hasil dari SK Menteri No. 202 untuk desentralisasi. Komite diharapkan bekerjasama dengan kepala sekolah sebagai partner untuk mengembangkan kualitas sekolah dengan menggunakan konsep manajemen berbasis sekolah dan masyarakat yang demokratis, transparan, dan akuntabel.
Untuk menjalankan peran yang telah disebutkan di muka, Komite Sekolah memiliki fungsi sebagai berikut :
a.       Mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap   penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.
b.      Melakukan kerjasama dengan masyarakat (Perorangan/organisasi/dunia usaha dan dunia industri (DUDI)) dan pemerintah berkenaan dengan penyelengaraan pendidikan bermutu.
c.       Menampung dan menganalisis aspirasi, ide, tuntutan, dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat
d.      Memberikan masukan, pertimbangan, dan rekomendasi kepada satuan pendidikan
e.       Mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap   penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.
f.       Melakukan kerjasama dengan masyarakat (Perorangan/organisasi/dunia usaha dan dunia industri (DUDI)) dan pemerintah berkenaan dengan penyelengaraan pendidikan bermutu.
g.      Menampung dan menganalisis aspirasi, ide, tuntutan, dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan olej masyarakat.
h.      Memberikan masukan, pertimbangan, dan rekomendasi kepada satuan pendidikan
i.        Mendorong orang tua siswa dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pendidikan guna mendukung peningkatan mutu pendidikan dan pemerataan pendidikan.
j.        Menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelengaraan pendidikan di satuan pendidikan.
k.      Melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program, peyelenggaraan, dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan.
Pada umumnya kurikulum muatan lokal di madrasah dasar adalah bahasa Jawa dan bahasa Ingris. Peran wali murid dan Komite mendukung pemilihan mulok tersebut, sedangkan dalam pengembangan kurikulum life skill disesuaikan dengan kondisi lingkungan madrasah. Paguyuban aktif berperanserta dengan menjadi nara sumber pembelajaran dan menyiapkan peralatan yang dibutuhkan dalam kegiatan pembelajaran life skill. Ekstrakurikuler, masyarakat yang terdiri dari wali murid, komite, pengusaha, instansi lain, dan alumni membantu dana, tenaga, akomodasi & transportasi untuk kegiatan ekstrakurikuler. Wali murid juga membantu membelikan peralatan musik, sebagai nara sumber, pelatih, dan mencarikan guru les bila dibutuhkan untuk ekstrakurikuler ini.
4.         Peran Serta Masyarakat dalam Pengembangan Kurikulum
Peranserta masyarakat dalam pengembangan sarana madrasah antara lain dengan mewakafkan tanah untuk bangunan madrasah, wali murid memberi dana, media pendidikan, buku pelajaran dan buku bacaan untuk  anak-anak dan Komite memberikan bantuan untuk merehab, membangun gedung kelas, dan membantu sarana pendidikan seperti: membuatkan media pendidikan berupa pot-pot pembelajaran dan sebagainya. Peranserta masyarakat dalam pengembangan prasarana madrasah berasal dari beberapa Instansi lain. Komite dan Paguyuban membantu prasarana madrasah mulai dari membantu pengadaan tanah.
Peran serta masyarakat dalam peningkatan mutu meliputi: mutu bidang akademik, agama, seni dan olah raga. Mutu bidang Akademik : ketiga madrasah mencapai grade yang tinggi yaitu MSN, SSN dan RSBI hal ini dikarenakan kepala madrasah berpengalaman dan ahli dalam memanaj madrasahnya, guru-gurunya kompeten dibidangnya dan tidak terlepas pula dari Komite Madrasah yang selalu memikirkan peningkatan mutu madrasah, Paguyuban membantu meningkatkan mutu dalam pembelajaran serta Mapenda dan Dinas Pendidikan, rutin memberikan supervisi. Mutu bidang seni : peranserta masyarakat dalam meningkatkan mutu antara lain : wali murid menjadi pelatih dalam bidang seni tari tradisional, fashion, qiroati, olah vokal, puisi, dan paduan suara. Disamping itu Komite, Paguyuban, DUDI, alumni dan Instansi lain juga membantu dana, akomodasi untuk kegiatan lomba. Mutu bidang agama : wali murid memberi bantuan guru mengaji untuk mengajari seni tartil membaca Al-Qur’an dan mendukung kegiatan keagamaan. Komite dan wali murid berpartisipasi dalam hal tenaga, dana pada waktu lomba dan masyarakat bersama-sama madrasah menyelenggarakan PHBI.  Mutu bidang olah raga : madrasah mengadakan olah raga bersama dengan Komite dan paguyuban dan pada event-event tertentu mengadakan perlombaan jantung sehat. Peranserta masyarakat membantu pengadaan lapangan tennis meja dan bulu tangkis, dan menjadi pelatih disamping itu peralatan olah raga sebagian sumbangan dari wali murid. Wali murid, Komite, Mapenda, Dinas Pendidikan, Instansi Lain, DUDI dan Alumni aktif mendukung pada saat siswa mengikuti perlombaan dan dukungannya berupa tenaga maupun dana bahkan mencarikan pelatih untuk persiapan lomba.
5.         Perbedaan Peran Perkembangan Kurikulum dari Tahun ke Tahun
a.         Kurikulum 1947 atau disebut Rentjana Pelajaran 1947
Ini adalah kurikulum pertama sejak Indonesia merdeka. Perubahan arah pendidikan lebih bersifat politis, dari orientasi pendidikan Belanda ke kepentingan nasional. Saat itu mulai ditetapkan asas pendidikan ditetapkan Pancasila. Kurikulum ini sebutan Rentjana Pelajaran 1947, dan baru dilaksanakan pada 1950. Karena kurikulum ini lahir dikala Indonesia baru merdeka, maka pendidikan yang diajarkan lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia merdeka, berdaulat, dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini. Fokus Rencana Pelajaran 1947 tidak menekankan pendidikan pikiran, melainkan hanya pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat.
b.         Kurikulum 1952, Rentjana Pelajaran Terurai 1952
Adanya kurikulum ini merupakan penyempurnaan kurikulum sebelumnya, merinci setiap mata pelajaran sehingga dinamakan Rentjana Pelajaran Terurai 1952. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Seperti setiap pelajaran dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Silabus mata pelajaran menunjukkan secara jelas seorang guru mengajar satu mata pelajaran.
c.         Kurikulum 1964, Rentjana Pendidikan 1964
Pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum pada 1964, namanya Rentjana Pendidikan 1964. Kurikulum ini bercirikan bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD. Sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana, yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional atau artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmani.
d.         Kurikulum 1968
Kurikulum pertama sejak jatuhnya Soekarno dan digantikan Soeharto. Bersifat politis dan menggantikan Rentjana Pendidikan 1964 yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama. Kurikulum ini bertujuan membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni.
Cirinya, muatan materi pelajaran bersifat teoretis, tidak mengaitkan dengan permasalahan faktual di lapangan. Titik beratnya pada materi apa saja yang tepat diberikan kepada siswa di setiap jenjang pendidikan. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik sehat dan kuat.
e.         Kurikulum 1975
Pemerintah memperbaiki kurikulum pada tahun itu. Kurikulum ini menekankan pendidikan lebih efektif dan efisien. Menurut Mudjito, Direktur Pembinaan TK dan SD Departemen Pendidikan Nasional kala itu, kurikulum ini lahir karena pengaruh konsep di bidang manajemen MBO (management by objective). Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI), dikenal dengan istilah satuan pelajaran, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan.
f.          Kurikulum 1984
Kurikulum ini mengusung pendekatan proses keahlian. Meski mengutamakan pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering disebut “Kurikulum 1975 disempurnakan”. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA).
g.         Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999
Pada tahun 1994 pemerintah memperbarui kurikulum sebagai upaya memadukan kurikulum kurikulum sebelumnya, terutama Kurikulum 1975 dan 1984. Namun, perpaduan antara tujuan dan proses belum berhasil. Sehingga banyak kritik berdatangan, disebabkan oleh beban belajar siswa dinilai terlalu berat, dari muatan nasional sampai muatan lokal. Misalnya bahasa daerah, kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain.
h.         Kurikulum 2004, KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi)
Pada 2004 diluncurkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) sebagai pengganti Kurikulum 1994. Suatu program pendidikan berbasis kompetensi harus mengandung tiga unsur pokok, yaitu pemilihan kompetensi sesuai, spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk menentukan keberhasilan pencapaian kompetensi, dan pengembangan pembelajaran.
KBK mempunyai ciri-ciri sebagai berikut, menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal, berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman. Kegiatan belajar menggunakan pendekatan dan metode bervariasi, sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.
i.          Kurikulum 2006, KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)
Kurikulum ini hampir mirip dengan Kurikulum 2004. Perbedaan menonjol terletak pada kewenangan dalam penyusunannya, yaitu mengacu pada jiwa dari desentralisasi sistem pendidikan. Pada Kurikulum 2006, pemerintah pusat menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Guru dituntut mampu mengembangkan sendiri silabus dan penilaian sesuai kondisi sekolah dan daerahnya. Hasil pengembangan dari semua mata pelajaran dihimpun menjadi sebuah perangkat dinamakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
10. Kurikulum 2013
Kurikulum ini adalah pengganti kurikulum KTSP. Kurikulum 2013 memiliki tiga aspek penilaian, yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampilan, dan aspek sikap dan perilaku. Di dalam Kurikulum 2013, terutama di dalam materi pembelajaran terdapat materi yang dirampingkan dan materi yang ditambahkan. Materi yang dirampingkan terlihat ada di materi Bahasa Indonesia, IPS, PPKn, dsb., sedangkan materi yang ditambahkan adalah materi Matematika.
BAB III
PENUTUP

A.        Kesimpulan
            Dalam suatu negara bisa berkembang apabila pendidikan didalam cukup baik, karena pendidikan merupakan salah satu faktor penentu dalam negara-negara maju yang pertama kali mereka titik tekankan adalah bagaimana pendidikan itu berkembang, salah satu cara mereka mengembangkan kurikulum, karena pendidikan bisa berkembang apabila kurikulumnya itu baik karena kurikulum meliputi rencana, tujuan, isi, organisasi, strategi dalam pendidikan.
Pada dasarnya kurikulum merupakan refleksi dari kebudayaan dimana kurikulum itu berada. Dengan memperhatikan struktur suatu kebudayaan, lebih memperjelas lagi untuk membedakan suatu kurikulum yang satu dengan yang lainnya yaitu kurikulum yang menggambarkan hal-hal yang bersifat pendidikan umum dan yang bersifat pendidikan khusus.
B.        Saran
            Kami menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna secara keseluruhan, mungkin ada kekurangan baik isi ataupun pengetikannya. Untuk itu kami harap pihak terkait dapat memberikan masukan agar makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Dakir, 2004. Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum. Yogyakarta : PT. Rineka Cipta

Dewantara, K.H. 1962. Karya Ki Hajar Dewantara. Pendidikan. Yogyakarta: Taman Siswa.

Fattah, N. 1987. Ketidak sesuaian antara Anggaran yang Diusulkan Dengan Anggaran yang Disetujui Dalam Program Peningkatan Mutu Pendidikan SMA di Jawa Barat. Tesis tidak diterbitkan. Bandung: PPS IKIP Bandung

Joni, T.R. 1992. Ketentuan-ketentuan Pokok Kurikulum Pendidikan Pra-jabatan Kependidkan dan Strategi Pengembangannya. Jakarta: P2LPTK, Ditjen Dikti, Depdikbud.

Kamars, M.D. 1989. Sistem Pendidikan Dasar, Menengah dan Tinggi Suatu Perbandingan Antar Beberapa Negara. Jakarta: Depdikbud-Ditjendikti P2LPTK.

Wiryokusuma, Iskandar. 1988. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Jakarta : Bina Aksara

Previous
« Prev Post