Follow by Email

Makalah Etologi


BAB I 
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
      Etologi berasal dari bahasa Yunani yaitu ethos yang berarti kebiasaan dan logos yang berarti ilmu atau pengetahuan. Ethos bisa pula berarti etis atau etika dan juga dapat berarti karakter. Jadi secara etimologi etologi berarti ilmu yang mempelajari tentang kebiasaan atau karakter. Namun etologi lebih dahulu dikenalkan sebagai ilmu prilaku hewan. Etologi adalah suatu cabang ilmu zoology yang mempelajari prilaku atau tingkah laku hewan, mekanisme, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.  
      Teori Etologi merupakan sebuah studi yang mengenai tingkah laku lebih khususnya tingkah laku hewan. Etologi menekankan landasan biologis, dan evolusioner perkembangan. Penamaan (imprinting) dan periode penting (critical period) merupakan konsep kunci.
      Teori ini di tegakkan berdasarkan penelitian yang cermat terhadap perilaku binatang dalam keadan nyata. Pendirinya adalah Carl Von Frisch soerang pecinta binatang. Bertahun-tahun ia memelihara berbagai macam binatang dan mengamati perilakunya. Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan sekelompok itik dengan anak-anaknya. Ia memiisahkan dua kelompok anak angsa, satu kelompok diasuh induknya dan satu kelompok lagi ia asuh sendiri. Setelah beberapa bulan kelompok anak angsa yang diasuhnya mengidentifikasi Carl Von Frisch sebagai induknya. Kemanapun Carl Von Frisch pergi mereka selalu mengikuti. Suatu saat dipertemukan kelompok asuhnya dengan induk aslinya ternyata kelompok yang diasuh ini menolak induk aslinya.
      Metodologi adalah ilmu-ilmu/cara yang digunakan untuk memperoleh kebenaran menggunakan penelusuran dengan tata cara tertentu dalam menemukan kebenaran, tergantung dari realitas yang sedang dikaji. Metodologi tersusun dari cara-cara yang terstruktur untuk memperoleh ilmu. Metodelogi penelitian dapat dilakukan dengan dua cara, yakni metode kuantitatif dan metode kualitatif.
      Tingkah laku Instingtif adalah tingkah laku yang tidak pernah dipelajari dan muncul karena stimulus eksternal tertentu. Pola tindakan tertentu juga memiliki komponen pendorong dasariah, sebuah desakan dari dalam untuk terlibat dalam tingkah laku instingtif. Contohnya : tindakan penyelamatan diri anak ayam oleh induknya karena dapat merespon kapan pun jika anak-anaknya berada dalam bahaya dan dicontohkan pada hasil percobaan Lorenz terhadap dua butir telur angsa. Telur pertama dierami oleh induknya sedangkan telur kedua dihangatkan di dalam inkubator. Setelah telur angsa menetas, angsa yang dierami induknya akan mengikuti tingkah laku induknya dan angsa yang dihangatkan di dalam inkubator selama belum menetas mengikuti tingkah laku
B.  Rumusan Masalah
      Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu :
1.   Pengertian Teori Perkembangan Etologi.
2.  Teori Perkembangan Etologi.
3.  Tokoh- tokoh dalam teori Etologi.
4.  Fase-fase Kelekatan dalam Teori Etologi.
5.  Mekanisme Perkembangan.
BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Teori Perkembangan Etologi
      Etologi berasal dari bahasa yunani yaitu ethos yang berarti kebiasaan dan logos yang berarti ilmu atau pengetahuan. Ethos bisa pula berarti etis atau etika dapat juga berarti karakter. Jadi secara etimologi, etologi berarti ilmu yang mempelajari tentang kebiasaan atau karakter. Namun etologi lebih dahulu dikenalkan sebagai ilmu perilaku hewan.
      Etologi adalah suatu cabang ilmu zoology yang mempelajari perilaku atau tingkah laku hewan, mekanisme, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.  Ilmu yang mempelajari perilaku atau karakter hewan tersebut digunakan di dalam pendekatan ilmu psikologi perkembangan. Teori ini mencoba menjelaskan perilaku manusia. Sehingga di dalam ilmu psikologi, etologi berarti ilmu yang mempelajari perilaku manusia di dalam pengaturan yang alami. Semua perilaku manusia adalah bentuk reaksi dari apa yang terjadi di lingkungan alaminya. Teori Etologi memahami bahwa perilaku manusia mempunyai relevansi dengan perilaku binatang. Sifat-sifat yang menonjol dari setiap binatang diantaranya adalah sifat mempertahankan wilayahnya, bertindak agresif, dan perasaan ingin menguasai sesuatu. Sifat-sifat ini ditemukan pula pada diri manusia. Karena hal tersebut, maka para etolog memandang bahwa insting merupakan sifat dasar hewan dan aspek penting dalam memahami perilaku manusia.
      Etologi muncul sebagai kontributor penting terhadap teori perkembangan manusia karena ahli ilmu hewan Eropa, terutama Konrad Lorenz (1903-1989) lebih sering bekerja dengan angsa Eurasia, Lorenz mempelajari pola perilaku yang pada awalnya dianggap telah terprogram dalam gen burung. Pengamatannya mengenai seekor anak angsa yang baru lahir sepertinya dilahirkan dengan insting untuk mengikuti ibunya. Pengamatan menunjukkan bahwa anak angsa tersebut langsung mengikuti induknya segera setelah menetas. Apakah perilaku ini diprogram kedalam anak angsa tersebut?     Dari pertanyaan inilah Lorenz melakukan sebuah eksperimen yang mengagumkan, Lorenz membuktikan bahwa kesenjangan yang diwariskan ini merupakan penjelasan yang terlalu sederhana bagi perilaku si anak angsa.
      Lorenz memisahkan telur-telur yang ditetsakan oleh seekor angsa ke dalam dua kelompok. Salah satu kelompok ia kembalikan pada si ibu angsa untuk ditetaskan. Kelompok yang lain ditetaskan di dalam inkubator. Anak angsa dalam kelompok pertama mengikuti ibunya segera setelah ditetaskan.
      Di sisi lain, anak angsa di kelompok kedua yang langsung melihat Lorenz ketika mereka menetas, mengikutinya kemanapun ia pergi, seolah ia adalah ibu mereka. Lorenz menandai anak angsa tersebut dan menempatkan kedua kelompok kedalam sebuah kotak. Ibu angsa dan “Ibu” Lorenz berdiri berdampingan saat kotak tersebut diangkat. Tiap kelompokk anak angsa langsung melihat kearah “ibunya”. Lorenz menyebut proses ini imprinting: pembelajaran yang cepat dan alami periode kritis yang terbatas yang menghasilkan kelekatan pada benda bergerak pertama yang terlihat.
      Pendekatan Metodologis dalam etologi (Pendekatan yang memahami tingkah laku dengan setting yang alamiah) Langkah–langkahnya :
a.  Mengetahui informasi tentang spesies tersebut sebanyak mungkin,
b.  Mengamati tingkah laku khasnya,
c.  Membandingkan dengan tingkah laku spesies yang lain.
B.  Teori Perkembangan Etologi
1.   Teori seleksi alam (Darwin, 1859)
      Darwin berpendapat bahwa tidak ada sifat baru yang perlu dimiliki semasa hidup individu. Pada dasarnya, teori Darwin berjalan sebagai berikut: diantara anggota-anggota sebuah spesies, terdapat variasi yang tak tehitung jumlahnya dan diantara anggota yang bermacam-macam itu hanya kelompok tertentu yang berhasil bertahan hidup yang bisa menghasilkan keturunannya. Dengan demikian terdapat ‘perjuangan untuk bertahan hidup’ dimana anggota-anggota terbaik sebuah spesies dapat hidup cukup panjang untuk meneruskan sifat unggul mereka kepada generasi berikutnya. Terhadap jumlah generasi yang tak terhitung jumlahnya itu, alam kemudian ‘memilih’ siapa-siapa yang bisa beradaptasi paling dengan lingkungan mereka.
      Teori ini kini dianggap sebagai komponen integral dari biologi (ilmu hayat). Menurut Darwin, Istilah ‘perjuangan untuk bertahan hidup’ (survival for the existence) adalah yang unggul yang bisa bertahan hidup (survival of the fittest). Darwin juga merupakan ilmuwan pertama yang memberikan perhatian pada perkembangan melalui observasi yang hati-hati terhadap bayi-bayi. Di samping itu, Darwin pun membahas tentang keadaan emosional pada bayi. Menurutnya sangat sulit untuk mengetahui seberapa dini bayi dapat menunjukkan dirinya sedang marah. Ia mengatakan bahwa bayi yang baru berumur 8 hari akan mengerutkan kening disekitar matanya sebelum ia menangis. Hal ini bisa menandakan bahwa bayi tersebut merasakan menderita atau sulit tapi bukan marah (Karl,1982).
2.   Etologi Modern ( Lorenz dan Tindbergen)
      Etologi modern lahir sebagai suatu pandangan penting karena pekerjaan para pakar ilmu hewan Eropa, khususnya Konrad Lorenz (1903-1989). Etologi menekankan bahwa perilaku sangat dipengaruhi oleh biologi, terkait dengan evolusi dan ditandai oleh periode penting atau peka. Konsep periode penting (critical period), adalah suatu periode tertentu yang sangat dini dalam perkembangan yang memunculkan perilaku tertentu secara optimal.
      Konsep etologi untuk belajar dengan cepat dan alamiah dalam satu periode waktu yang kritis yang melibatkan kedekatan dengan obyek yang dilihat bergerak pertama kali. Para Etologist adalah para pengamat perilaku yang teliti, dan mereka yakin bahwa laboratorium bukanlah setting yang baik untuk mengamati perilaku. Mereka mengamati perilaku secara teliti dalam lingkungan alamiahnya seperti : di rumah, taman bermain, tetangga, sekolah, rumah sakit dan lain-lain. Oleh karena itu pendekatan metodologis teori etologis merupakan pendekatan yang memahami tingkah laku dengan setting yang alamiah.
Langkah–langkahnya :
a.    Mengetahui informasi tentang spesies tersebut sebanyak mungkin,
b.   Mengamati tingkah laku khasnya,
c.   Membandingkan dengan tingkah laku spesies yang lain.
      Tingkah laku Instingtif adalah tingkah laku yang tidak pernah dipelajari dan muncul karena stimulus eksternal tertentu. Pola tindakan tertentu juga memiliki komponen pendorong dasariah, sebuah desakan dari dalam untuk terlibat dalam tingkah laku instingtif. Contohnya : tindakan penyelamatan diri anak ayam oleh induknya karena dapat merespon kapan pun jika anak-anaknya berada dalam bahaya dan dicontohkan pada hasil percobaan Lorenz terhadap dua butir telur angsa. Telur pertama dierami oleh induknya sedangkan telur kedua dihangatkan di dalam inkubator. Setelah telur angsa menetas, angsa yang dierami induknya akan mengikuti tingkah laku induknya dan angsa yang dihangatkan di dalam inkubator selama belum menetas mengikuti tingkah laku Lorenz (T Lawton, Joseph, 1982).
3.   Teori Bowlby (Hetherington dan Parke, 1999)
      Teori ini dipengaruhi oleh teori evolusi dalam observasinya pada perilaku hewan. Menurut teori Etologi (Berndt, 1992) tingkah laku lekat pada anak manusia diprogram secara evolusioner dan instinktif. Sebetulnya tingkah laku lekat tidak hanya ditujukan pada anak namun juga pada ibu. Ibu dan anak secara biologis dipersiapkan untuk saling merespon perilaku. Bowlby (dalam Hetherington dan Parke, 1999) percaya bahwa perilaku awal sudah diprogam secara biologis. Reaksi bayi berupa tangisan, senyuman, isapan akan mendatangkan reaksi ibu dan perlindungan atas kebutuhan bayi. Proses ini akan meningkatkan hubungan ibu dan anak. Sebaliknya bayi juga dipersiapkan untuk merespon tanda, suara dan perhatian yang diberikan ibu. Hasil dari respon biologis yang terprogram ini adalah anak dan ibu akan mengembangkan hubungan kelekatan yang saling menguntungkan (mutuality attachment). Teori etologi juga menggunakan istilah “Psychological Bonding” yaitu hubungan atau ikatan psikologis antara ibu dan anak, yang bertahan lama sepanjang rentang hidup dan berkonotasi dengan kehidupan sosial (Bowley dalam Hadiyanti,1992). Bowlby menyatakan bahwa kita dapat memahami tingkah laku manusia dengan mengamati lingkungan yang diadaptasinya yaitu : lingkungan dasar tempat berkembang.
      Tingkah laku lekat (attachment behavior) adalah beberapa bentuk perilaku yang dihasilkan dari usaha seseorang untuk mempertahankan kedekatan dengan seseorang yang dianggap mampu memberikan perlindungan dari ancaman lingkungan terutama saat seseorang merasa takut, sakit dan terancam. Ada dua stimulus yang membuat merasa terancam, yaitu : 1) stimulus yang berbentuk besar, suaranya keras, datang secara tiba-tiba dan berubah dengan cepat; 2) objek yang bagi anak merupakan sesuatu yang asing. Jika anak berada dalam kondisi ini maka sistem kelekatannya diaktifkan. Anak akan bergerak mendekat untuk melihat atau memeriksa keberadaan ibunya. Adapun tujuan tingkah laku lekat adalah mendapatkan kenyamanan dari pengasuh (Bowlby dalam Durkin 1995).
Terkait Pengertian Teori Etologi, Tokoh Teori Etologi, dan Aplikasi Teori Etologi yaitu :
a.   Perkembangan Sosioemosi Pada Masa Remaja Perkembangan Sosioemosi.
b. Sejarah Hidup, Sruktur Kepribadian, dan Perkembangan Psikoseksual Sejarah Hidup, Struktur dan Kepribadian.
      Menurut Ainsworth (dalam Adiyanti,1985) tingkah laku lekat adalah berbagai macam tingkah laku yang dilakukan anak untuk mencari, menambah dan mempertahankan kedekatan serta melakukan komunikasi dengan figur lekatnya. Capitanio (dalam Adiyanti, 1985) berpendapat bahwa tingkah laku lekat merupakan sesuatu yang dapat dilihat, namun kadang perilaku ini dapat muncul dan kadang tidak. Intensitas perilaku lekat sangat bervariasi dan tergantung pada situasi lingkungan. Tingkah laku lekat ini ditujukan pada figur tertentu dan tidak ditujukan pada semua orang (Ainsworth dalam Ervika, 2000).
      Telah disebutkan sebelumnya pada teori etologi bahwa sebetulnya tingkah laku lekat tidak hanya ditujukan pada anak namun juga pada ibu. Bentuk tingkah laku lekat pada ibu berupa sikap yang ingin mempertahankan kontak dengan anak dan memperlihatkan ketanggapan terhadap kebutuhan anak. Tingkah laku lekat ini berfungsi membantu individu bertahan dan menjaga anak dibawah perlindungan orang tua. Bowlby (dalam Stams, Juffer dan Ijzendoorn, 2002) menyebutnya dengan istilah “care taking behavior” yang merupakan bagian program biologis yang tidak dipelajari.
      Tingkah laku lekat tidak berhubungan dengan kebutuhan makan, melainkan mendapatkan perlindungan dari ibu. Unsur penting dalam pembentukan kelekatan adalah peluang untuk mengembangkan hubungan yang timbal balik antara pengasuh dan anak. interaksi anak dengan pengasuh membutuhkan waktu dan pengulangan, dalam hal ini fungsi orang tua adalah memulai interaksi, bukan sekedar memberi respon terhadap kebutuhan anak (Newman dan Newman dalam Hadiyanti,1992).
      Interaksi yang intens antara ibu dan anak biasanya dimulai saat proses pemberian ASI (air susu ibu). Melalui proses pemberian ASI diharapkan akan berkembang kelekatan dan tingkah laku lekat karena dalam proses ini terjadi kontak fisik yang disertai upaya untuk membangun hubungan psikologis antara ibu dan anak. Berkaitan dengan tingkah laku lekat, Ainsworth (dalam Papalia dan Old 1986) menyebutkan ada mekanisme yang disebut dengan “working model” atau istilah Bowlby (Pramana 1996; Parker dkk, 1995; Bretherton, Golby dan Cho 1997; Mc Cartney dan Dearing, 2002) disebut dengan “internal working model”.
C.  Tokoh- tokoh dalam Teori Etologi
1.   Konrad Z. Lorenz (Austria, 1903-1989)
      Sebagai Bapak Ethologi Modern (Father of modern ethology) yang juga telah meraih Hadiah Nobel pada tahun 1973. Ia adalah seorang psikologi, zoologi, dan ornitologi berkebangsaan Austria. Lorenz bertemu dengan Nikolas Tinbergen yang juga seorang ahli tingkah laku hewan (ethologist). Mereka berdiskusi tentang hubungan antara respon penyesuaian tempat dengan mekanisme pelepasan yang dapat menjelaskan timbulnya tingkah laku berdasarkan insting. Pemikiran mereka merupakan cikal bakal lahirnya etologi.
2.   Nikolas Tinbergen ( Den Haag, 1907 – 1988 )
      Seorang etolog dan ornitolog Belanda yang berbagi penghargaan nobel dalam fisiologi atau kedokteran pada tahun 1973 bersama Karl von Frisch dan Konrad Lorenz atas penemuan mereka di bidang biologi. Tinbergen terkenal dengan empat pertanyaan yang dipercayainya yang harus ditanyakan berkenaan dengan berbagai perilaku binatang. Selain itu, dengan metodenya ia menerapkannya untuk menangani gejala autisme pada anak.
      Kerjasama Lorenz dan Tinbergen, mengemukakan bahwa etologi selalu memperhatikan empat jenis penjelasan setiap perilaku:
a. Fungsi: Bagaimana perilaku berpengaruh kuat pada kesempatan hewan untuk  kelangsungan hidup dan reproduksi?
b. Penyebab: Apakah stimuli yang mendapatkan tanggapan itu, dan bagaimana telah diubah oleh pembelajaran terkini?
c.  Pengembangan: Bagaimana perilaku berubah dengan umur, dan apakah pengalaman awal yang perlu untuk perilaku dapat diperlihatkan?
d. Sejarah evolusioner: Bagaimana perilaku jika dibandingkan dengan perilaku bersama dalam spesies yang terkait, dan bagaimana mungkin telah timbul melalui proses filogeni?
      Lorenz membuat Tinbergen terkenal sebagai tanggapan naluriah yang akan terjadi dan dapat dipercaya dalam kehadiran stimuli yang dapat dikenali (disebut stimuli tanda atau stimuli pembebasan). Pola aksi ini kemudian dapat dibandingkan melintasi spesies bebek dan angsa, serta persamaan dan perbedaan antara perilaku yang dibandingkan dengan persamaan dan perbedaan dalam morfologi.
      Para etolog mencatat bahwa stimuli yang membebaskan pola aksi tertentu umumnya menonjolkan kemunculan atau perilaku lain pada anggota spesies  mereka sendiri, dan mereka dapat menunjukkan bagaimana bentuk penting komunikasi hewan dapat ditengahi dengan pola aksi tertentu yang sedikit sederhana.
      Tinbergen melakukan percobaan dengan menggunakan sarang tawon yang ditempatkan di tengah lingkaran bunga pinus, kemudian lingkaran bunga pinus dipindahkan disamping sarangnya. Ternyata tawon tersebut kembali ketengah lingkaran, tidak ke sarang. Demikian pula setelah lingkaran bunga pinus diganti dengan lingkaran baru tanpa sarang, dan disebelahnya dibentuk segitiga dari bunga pinus dengan sarang di tengahnya. Hasilnya menunjukkan bahwa tawon kembali ke lingkaran baru, bukan ke sarang di tengah segitiga bunga pinus. Hasil tersebut menyatakan bahwa tawon dapat menggunakan suatu bentuk di tanah dan terus menjaga lingkaran tersebut dengan belajar untuk mangenal sesuatu..
3.   JohnBowlby (1907-1990)
      Seorang psikiater dan psikoanalis, terkenal karena minatnya dalam perkembangan anak. Bowlby lahir di London. Teori Bowlby (Teori Kelekatan) dipengaruhi oleh teori evolusi dalam observasinya pada perilaku hewan. Menurut teori Etologi (Berndt, 1992) tingkah laku sangat lekat pada anak sehingga diprogram secara evolusioner dan instinktif. Sebenarnya tingkah laku kelekatan tidak hanya ditujukan pada anak namun juga pada ibu. Ibu dan anak secara biologis dipersiapkan untuk saling merespon perilaku. Bowlby (Hetherington dan Parke,1999) percaya bahwa perilaku awal sudah diprogam secara biologis. Reaksi bayi berupa tangisan, senyuman, isapan akan mendatangkan reaksi ibu dan perlindungan atas kebutuhan bayi. Proses ini akan meningkatkan hubungan ibu dan anak. Sebaliknya bayi juga dipersiapkan untuk merespon tanda, suara dan perhatian yang diberikan ibu. Hasil dari respon biologis yang terprogram ini adalah anak dan ibu akan mengembangkan hubungan kelekatan yang saling menguntungkan (mutuality attachment).
      Teori etologi juga menggunakan istilah psychological bonding yaitu hubungan atau ikatan psikologis antara ibu dan anak, yang bertahan lama sepanjang rentang hidup dan berhubungan dengan kehidupan sosial (Bowley dalam Hadiyanti,1992). Bowlby menyatakan bahwa kita dapat memahami tingkah laku manusia dengan mengamati lingkungan yang diadaptasinya yaitu : lingkungan dasar tempat berkembang. Dalam kehidupannya seringkali manusia menghadapi ancaman untuk mendapat perlindungan, anak-anak memerlukan mekanisme untuk menjaga mereka dan dekat dengan orangtuanya dengan kata lain mereka harus mengembangkan tingkah laku kelekatan (attachment).
      Sexual imprinting adalah proses-proses yang dipelajari oleh individu untuk mengarahkan perilaku seksualnya dalam kelompok spesiesnya. Pada penelitian cross-fostering (ibu asuh) yang dilakukan, dimana suatu individu dibesarkan oleh orang tua atau induk yang berbeda dari individu tersebut, sehingga memperlihatkan bahwa imprintingnya juga akan muncul pada awal-awal kehidupannya. Pada kebanyakan spesies burung, penelitian ini telah menunjukkan bahwa burung yang perkembangannya diasuh oleh orang tua atau induk lain.
      Tingkah laku lain yang ditunjukkan oleh hewan selain imprinting juga dapat diamati. Misalnya saja adalah perilaku hewan-hewan yang membutuhkan bermain dalam hidupnya. Dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari, kucing suka bermain-main dengan obyek yang bisa bergerak-gerak yang  membuatnya sangat menarik. Sama halnya dengan manusia pada saat masa anak-anak, mereka suka bermain.


D.  Mekanisme Perkembangan
1.  Etologi menekankan pada proses biologis yang berinteraksi dengan pengalaman. Kematangan fisik, termasuk perubahan hormonal, perkembangan lokomotor, dan peningkatan efisiensi sistem saraf menandai pentingnya periode sensitif.
2.  Sebagai tambahan dari perubahan biologis sepanjang rentang kehidupan, terdapat kemampuan belajar yang innate (yang umum & spesifik). Kemampuan ini terkait dengan tingkah laku insting, yaitu tingkah laku yang tidak pernah dipelajari dan muncul karena stimulus eksternal tertentu. Contohnya: tindakan penyelamatan diri anak ayam oleh induknya karena dapat merespon kapanpun jika anak-anaknya berada dalam bahaya.
3.   Kemampuan belajar yang dibangun sampai sistem saraf inilah yang memungkinkan organisme dapat belajar dari pengalamannya.
4. Etologis juga mempelajari perilaku yang dipelajari (learned behavior) yang ditujukan untuk adaptasi
BAB III 
PENUTUP
A.  Kesimpulan
      Etologi adalah suatu cabang ilmu zoology yang mempelajari perilaku atau tingkah laku hewan, mekanisme, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.  Ilmu yang mempelajari perilaku atau karakter hewan tersebut digunakan di dalam pendekatan ilmu psikologi perkembangan. Teori ini mencoba menjelaskan perilaku manusia. Sehingga di dalam ilmu psikologi, etologi berarti ilmu yang mempelajari perilaku manusia di dalam pengaturan yang alami.
      Teori Etologi dari perkembangan memandang bahwa perilaku sangat dipengaruhi oleh biologi dan evolusi (Hinde,1992; Rosenzweig,2000). Teori etologi merupakan sebuah studi mengenai tingkah laku, khususnya tingkah laku hewan. Teori ini juga menekankan bahwa kepekaan kita terhadap jenis pengalaman yang beragam berubah sepanjang rentang kehidupan, Dengan kata lain, ada periode kritis atau sensitif bagi beberapa pengalaman.
B.  Saran
     Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangannya, baik isi, format dan pengetikannya. Oleh sebab itu, penulis sangat senang apabila Pihak terkait untuk memberi saran agar lebih baik kedepannya.










DAFTAR PUSTAKA

Belsky, J. (Ed) (1988). Infancy, Childhood and adollescene. Clinical Implication of Attachment. Lawrence Erlbaum Associate

Ervika, Eka, (2000). Kualitas Kelekatan dan Kemampuan Berempati pada Anak. Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada

Crain, William. (2007). Teori Perkembangan : Konsep dan Aplikasi. Pustaka Pelajar
Santrock, John W. (2002). Life-Span Development. Dallas. University of Texas.

Previous
« Prev Post