Follow by Email

Latar Belakang dan Rumusan Masalah Proposal


METODE DAN TEKNIK
PENULISAN KARYA ILMIAH

Aplikasi Teknik Silvikultur Dalam Rehabilitasi Lahan Kritis di Kecamatan Budong-Budong Kabupaten Mamuju Tengah Sulawesi Barat

   

Oleh :

KHT B

INDRA SETIAWAN
L131 16 119
                                   









JURUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS TADULAKO
2018

BAB I

PENDAHULUAN


A.        Latar Belakang

Lahan kritis adalah lahan yang tidak dapat dimanfaatkan secara optimal karena mengalami proses kerusakan fisik, kimia, maupun biologi yang pada akhirnya membahayakan fungsi hidrologi, orologi, produksi pertanian, pemukiman dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Lahan kritis juga disebut sebagai lahan marginal yaitu lahan yang memiliki beberapa faktor pembatas, sehingga hanya sedikit tanaman yang mampu tumbuh. Faktor pembatas yang dimaksud adalah faktor lingkungan yang dapat mendukung pertumbuhan tanaman, seperti unsur hara, air, suhu, kelembaban dan sebagainya (Djunaedi, 1997).
Silvikultur adalah Seni memproduksi dan merawat hutan; penerapan pengetahuan silvic dalam pengobatan hutan; teori dan praktek untuk mengendalikan pembentukan hutan, komposisi dan pertumbuhan. Seorang Silvikulturis tidaklah menanam pohon hanya sekedar supaya pohon tumbuh kuat ditinjau dari fisiologisnya, tetapi dengan tujuan bermanfaat bagi manusia secara biologis maupun ekonomis. Kontrol silvikultur terhadap struktur dan tegakan menghendaki kaidah-kaidah yang memadukan pengetahuan biologi, pengelolaan dan ekonomis. (Society Of American Foresters, 1950).
Rehabilitasi hutan dan lahan merupakan suatu usaha memperbaiki, memulihkan kembali dan meningkatkan kondisi hutan dan lahan yang rusak agar dapat berfungsi secara optimal, baik sebagai unsur produksi, media pengatur tata air, maupun sebagai unsur perlindungan alam dan lingkungannya (Wahono, 2002).
Menurut Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 41 tahun 1991, Rehabilitasi Hutan dan Lahan dimaksudkan untuk memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan fungsi hutan dan lahan sehingga daya dukung, produktivitas dan peranannya dalam mendukung sistem kehidupan tetap terjaga. Kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan diselenggarakan melalui kegiatan reboisasi, penghijauan, pemeliharaan, pengayaan tanaman, atau penerapan teknik konservasi tanah secara vegetative dan sipil teknis pada lahan kritis dan tidak produktif.
Laju kerusakan hutan yang disebabkan oleh berbagai faktor diprediksikan telah mencapai 1.6 juta hektar per tahunnya. Apabila hal ini dibiarkan maka menurut Witular (2000) hutan alam tropika di Sumatera akan habis pada tahun 2005, sedangkan di Kalimantan akan habis pada tahun 2010. Sementara menurut inventarisasi Depertemen kehutanan 2003, luas lahan kritis di Indonesia sekitar 43 juta hektar, dengan laju kerusakan hutan sekitar 3,5 juta hektar per tahun.
Kebutuhan bahan baku industri sekitar 58.87 juta m3/tahun, sedangkan pemenuhan kayu yang diproduksi dari hutan alam, hutan rakyat, HTI dan PT Perhutani selama 5 tahun terakhir hanya sekitar 25 juta m3/tahun. (Direktorat Produksi Hasil Hutan, 2000). Emil Salim (2005) mengatakan bahwa kebutuhan kayu di Indonesia sekitar 60 – 70 juta m3 setahun, sementara kayu yang bisa ditebang secara lestari dari hutan kita (alam, HTI dan Hutan Rakyat) hanya sekitar 20 juta m3/tahun. Sementara ilegal logging terus berjalan. Jadi mau tidak mau kita harus menanam dan tidak menebangi hutan alam.
Sedikitnya 245.970 hektare hutan di Sulawesi Barat dalam kondisi kritis. Presentase kerusakan terparah berada di wilayah Kabupaten Mamasa dengan luas mencapai 94.547 hektare. Sementara di Mamuju dan Mamuju Tengah, luas lahan kritis mencapai 81.028 hektare. Yang terbagi dalam delapan kecamatan di Kabupaten Mamuju tercatat mengalami kerusakan hutan. Kecamatan tersebut yakni Kecamatan Mamuju, Simboro, Bonehau, Kalukku, Budong-Budong, Kalumpang, Tapalang dan Tapalang Barat. Kurangnya anggaran menjadi alasan utama Dinas Kehutanan (Dishut) Mamuju, tidak mampu menangani bertambahnya lahan kritis. kerusakan lahan di Sulbar sebelumnya dipicu keberadaan HPH sejak zaman orde baru yang melakukan perambahan hutan tanpa mempedulikan lingkungan. Hutan semakin rusak karena dipicu aksi penjarahan hutan tanpa izin atau illegal logging di kawasan hutan lindung.
B.        Rumusan Masalah
          Berdasarkan latar belakang diatas, dapat disimpulkan perumusan masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Teknik Silvikultur yang bagaimana yang dapat merehabilitasi Lahan Kritis di Kecamatan Budong-Budong?
2.      Apa saja tolak ukur suatu Lahan dapat dikatakan menjadi Lahan Kritis?
3.      Faktor apa saja yang dapat mempercepat dan menghambat Laju Kerusakan Hutan?
4.      Jenis Tanaman apa saja yang cocok ditanam pada lahan Kritis?
5.      Berapa lama jangka waktu yang dibutuhkan agar Lahan Kritis yang di Rehabilitasi dapat kembali Produktif atau subur?

 



Previous
« Prev Post