Follow by Email

Laporan Sistem Agroforestry Kemiri-Coklat di Desa Daenggune Kec. Kinovaro Kab. Sigi

“SISTEM AGROFORESTY KEMIRI - COKLAT”

Disusun Oleh :
Inaya Ulfah L 131 16 173
Indra Setiawan L 131 16 119
Zaki Mubarokh L 131 16 111
Ayu Lestari L 131 16 148
Normawati F.S Parada L 131 16 158
Hestiana L 131 16 113
Desi Kinanti L 131 16 151
Besti L 131 16 265
Abd. Razak I Yahya L 131 16 191

JURUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS TADULAKO
2019
I.       PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang
Agroforestri, sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan baru di bidang pertanian dan kehutanan, berupaya mengenali dan mengembangkan keberadaan system agroforestri yang telah dipraktekkan petani sejak dulu kala. Secara sederhana, agroforestri berarti menanam pepohonan di lahan pertanian, dan harus diingat bahwa petani atau masyarakat adalah elemen pokoknya (subyek). Dengan demikian kajian agroforestri tidak hanya terfokus pada masalah teknik dan biofisik saja tetapi juga masalah sosial, ekonomi dan budaya yang selalu berubah dari waktu ke waktu, sehingga agroforestri merupakan cabang ilmu yang dinamis dan sangat baik diterapkan pada masyarakat.
Agroforestry dikembangkan untuk memberi manfaat kepada manusia atau meningkatkan kesejahteraan masyarakat.  Agroforestry utamanya di harapkan dapat dapat membantu mengoptimalkan hasil suatu bentuk penggunaan lahan secara berkelanjutan guna menjamin dan memperbaiki kebutuhan hidup masyarakat dan dapat meningkatkan daya dukung ekologi manusia, khususnya di daerah pedesaan (Mayrowani dan Ashari, 2011).
Agroforestri diharapkan bermanfaat selain untuk mencegah perluasan tanah terdegradasi, melestarikan sumberdaya hutan, meningkatkan mutu pertanian serta menyempurnakan intensifikasi dan diversifikasi silvikultur. Sistem ini telah dipraktekkan oleh petani di berbagai tempat di Indonesia selama berabad-abad (Michon dan de Foresta, 1995), misalnya sistem ladang berpindah, kebun campuran di lahan sekitar rumah (pekarangan) dan padang penggembalaan.
Kelebihan sistem ini bukan hanya dapat menghasilkan bahan pangan, tetapi juga dapat mengurangi biaya pembangunan dan pengelolaan hutan tanaman yang memang sangat mahal. Selanjutnya taungya dikenal di Indonesia sebagai tumpangsari. Banyak ahli yang berpendapat bahwa sistem taungya adalah cikal bakal agroforestri modern.  Agroforestry klasik atau tradisional sifatnya lebih polikultur dan lebih besar manfaatnya bagi masyarakat setempat dibandingkan agroforestry modern.  Agroforestry modern hanya melihat komuninasi antara tanaman keras atau pohon komersial dengan tanaman sela terpilih. Dalam agroforestry modern, tidak terdapat lagi keragaman kombinasi yang tinggi dari pohon yang bermanfaat atau juga satwa liar yang menjadi terpadu dari sistem tradisional (Hariah K et al, 2003)
1.2       Tujuan dan Kegunan
            Adapun tujuan dari pengambilan data ini adalah mengantarkn mahasiswa untuk mengenali beberapa system agroforestry, mempelajari pross penanaman pohon, pemeliharaan tanaman agroforestry dan  mengatahui teknik pemangkasan pohon di  desa Daenggune Kabupaten Sigi.
            Adapun kegunaan dalam pengambilan data ini  adalah mahasiswa dapat mengetahui pengelolaan lahan agroforestry yang dikelola langsung oleh masyarakat di desa Daenggune Kec. Kinovaro Kabupaten Sigi.
II.      TINJAUAN PUSTAKA
2.1       Devinisi Agroforestry
Agroforestry menurut Huxley (dalam Suharjito et al.) merupakan salah satu sistem penggunaan lahan yang mengkombinasikan tanaman berkayu (pepohonan, perdu, bambu, rotan dan lainnya) dengan tanaman tidak berkayu atau dapat pula dengan rerumputan (pasture), kadang-kadang ada komponen ternak atau hewan lainnya (lebah, ikan) sehingga terbentuk interaksi ekologis dan ekonomis antara tanaman berkayu dengan komponen lainnya.
            Agroforestry telah menarik perhatian peneliti-peneliti teknis dan sosial akan pentingnya pengetahuan dasar pengkombinasian antara pepohonan dengan tanaman tidak berkayu pada lahan yang sama, serta segala keuntungan dan kendalanya. Penyebarluasan agroforestry diharapkan bermanfaat selain mencegah
perluasan tanah terdegradasi, melestarikan sumber daya hutan, dan meningkatnya mutu pertanian serta menyempurnakan intesifikasi dari diversifikasi silvikultur  (Hariah et al, 2003).
2.2       Klasifikasi Kemiri
Pohon tinggi mencapai 40 m dan gemang hingga 1,5 m. Daun muda, ranting, dan karangan bunga dihiasi dengan rambut bintang yang rapat, pendek, dan berwarna perak mentega; seolah bertabur tepung. Daun tunggal, berseling, hijau tua, bertangkai panjang hingga 30 cm, dengan sepasang kelenjar di ujung tangkai. Helai daun hampir bundar, bundar telur, bundar telur lonjong ,berdiameter hingga 30 cm, dengan pangkal bentuk jantung, bertulang daun menjari hanya pada awalnya, bertaju 3-5 bentuk segitiga di ujungnya. Bunga berkelamin tunggal, putih, bertangkai pendek. Bunga betina berada di ujung malai payung tambahan; bunga jantan lebih kecil dan mekar lebih dahulu berada di sekelilingnya, berjumlah lebih banyak. Kelopak bertaju 2-3; mahkota bentuk lanset, bertaju-5, panjang 6-7 mm pada bunga jantan, dan 9-10 mm pada bunga betina. Buah batu agak bulat telur gepeng, 5-6 cm x 4-7 cm, hijau, berdaging keputihan, tidak memecah, berbiji-2 atau 1. Biji bertempurung keras dan tebal, agak gepeng, hingga 3 cm x 3 cm (Steenis, 1981).
Klasifikasi:
Kingdom         : Plantae
Subkingdom    : Tracheobionta
Super Divisi    : Spermatophyta
Divisi               : Magnoliophyta
Kelas               : Magnoliopsida
Sub Kelas        : Rosidae
Ordo                : Euphorbiales
Famili              : Euphorbiaceae
Genus              : Aleurites
Spesies            : Aleurites moluccana
2.3       Klasifikasi Kakao
Tanaman Kakao ini berasal dari Amerika Selatan yang kemudian menyebar luas ke daerah – daerah beriklim tropis termasuk ke Indonesia. Tanaman Kakao ini merupakan satu-satunya diantara 22 jenis marga Theobroma, suku sterculiaceae, yang diusahakan secara komersil. Tanaman kakao ini di daerah asalnya yaitu Amerika Selatan, merupakan tanaman kecil yang hidup di kawasan hutan hujan tropis, dan juga tumbuhnya selalu dilindungi oleh pohon – pohon besar. Di kawasan hutan hujan tropis ini merupakan ekologi yang cocok untuk pertumbuhan Tanaman Kakao.
Klasifikasi :
Kingdom                     : Plantae
Divisi                           : Spermatophyta
Sub Divisi                   : Angiospermae
Kelas                           : Dicotyledoneae
Ordo                            : Malvales
Famili                          : Sterculiaceae
Genus                          : Theobroma
Spesies                        : Theobroma cacao
2.4       Penanaman
            Penanaman adalah kegiatan memindahkan bibit dari tempat penyemaian ke lahan pertanaman untuk di dapatkan hasil produk dari tanaman yang di budidayakan. Proses pemindahan ini tidak boleh di lakukan dengan sembarangan, perlu adanya metode agar tanaman dapat belangsung hidup di media dan lingkuanganya yang baru.
            Kegiatan ini adalah kegiatan inti dari budidaya hutan yang mencakup areal yang luas, memerlukan biaya yang besar sehingga diperlukan keterampilan yang cukup. Kegiatan penanaman meliputi :
a.       Lahan yang kering sebelum di tanam di siram dulu dengan ari agar lembab.
b.      Membuat lubang dengan tugal sedalam 5 cm kurang lebih
c.       Sebelum bibit di keluarkan dari polybag disiram terlebih dahulu agar media tidak pecah.
d.      Melakukan penanaman bibit, usahakan bibit dalam keadaan tegak dan satu lubang tanamam untuk satu bibit.
e.       Mulsa jerami di pasang di sekitar tanaman, tujuannya untuk menjaga kelembaban tanaman dan mengurangi pertumbuhan gulma.
2.5       Pemeliharaan Tanaman Agroforestry
Kegiatan pemeliharaan terdiri dari pemeliharaan tanaman muda dan pemeliharaan tegakan. Pemeliharaan tanaman muda dilakukan mulai bibit selesai ditanam di lapangan sampai tanaman mencapai kondisi tegakan yaitu keadaan dimana pohon-pohonnya telah saling mempengaruhi satu sama lain, baik tajuk maupun perakarannya (umur 3–5 tahun). Pemeliharaan tegakan dilakukan setelah tegakan terbentuk sampai tegakan siap ditebang. Pekerjaan pemeliharaan tanaman muda dapat berupa penyulaman, penyiangan, pendangiran dan pembebasan gulma serta tanaman pengganggu lainnya. Kegiatan pemeliharaan tanaman muda juga dapat berupa pemupukan tanaman.
Pekerjaan pemeliharaan tegakan dapat berupa pembebasan tanaman pengganggu, pemangkasan cabang dan pemeliharaan. Pembebasan tanaman pengganggu dilakukan pada jalur tanaman pokok sehingga tanaman pokok mendapat kesempatan tumbuh secara baik. Pemangkasan cabang dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas batang melalui peningkatan ukuran panjang batang bebas cabang. Sedangkan kegiatan penjarangan dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan ruang tumbuh yang optimal sehingga pertumbuhan pohon-pohon tertinggal dapat berlangsung secara maksimal.
2.6       Pemangkasan Tanaman Agroforestry
Pemangkasan (purining) adalah tindakan pembuanga bagian-bagian tanaman seperti cabang atau ranting dengan  mendapatkan bentuk tertentu sehingga dicapai tingkat efisiensi yang tinggi di dalam pemanfaatan cahaya matahari, mempermudah pengendalian hama penyakit serta mempermudah pemanenan. Pemangkasan adakalanya berguna untuk mengurangi beban buah yang terlampau lebat sehingga didapatkan buah dengan kualitas dan kuantitas yang baik.
Dalam pelaksanaannya, terdapat dua dasar pemangkasan, yaitu pemancungan (headling back) dan penipisan (thinning out). Pemancungan merupakan pembuangan atau pemotongan bagian ujung suatu cabang sampai tinggal satu tunas. Karena pemancungan dapat memecahkan dominansiapikal, maka setelah pemancungan biasanya terjadi pertumbuhan vegetatif yang lebat sebagai akibat dari tumbuhnya tunas-tunas lateral. Oleh karena itu, pemancungan cenderung menghasilkan pertumbuhan tanaman dengan pola menyemak (bush) dan kompak. Apabila pemancungan dilakukan terhadap tanaman yang tengah aktif tumbuh, maka diistilahkan sebagai perompesan. Sedangkan penipisan adalah pembuangan cabang-cabang dengan meninggalkan hanya cabang lateral atau batang utama.
III.    METODE PRAKTEK
3.1      Waktu dan Tempat
            Kegiatan pengambilan data lapangan sistem Angroforestri ini dilakukan pada hari minggu, 24 maret 2019 Bertempat di dusun 3 Desa Daenggune kabupaten sigi Sulawesi Tengah.
3.2       Alat dan Bahan
            Adapun alat yang digunakan dalam pengambilan data ini yaitu kendaraan roda dua untuk menempuh jarak kelokasi, kamera untuk dokumentasi kegiatan, serta bantuan gps untuk membantu dalam penetuan lokasi pengambilan data. Selain itu bahan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah quisioner dan alat tulis menulis.
3.3       Langkah Kerja
1.         menyiapakan quisioner agar data yang diperoleh dilapangan teratur
2.         menentukan lokasi lahan agroforestri
3.         mencari narasumber dari lahan yang telah ditentukan
4.         menggali informasi dari narasumber dari sagala aspek sesuai dengan quisioner yang telah dibuat
5.         data yang diperoleh dicacat serta direkam
6.         langkah terakhir adalah pengolahan data
IV.    PEMBAHASAN
4.1       Pembahasan
a)         Penanaman;
Penanaman merupakan langkah awal dalam suatu proses pengelolaan lahan, hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan hasil dari apa yang ditanam. Kegiatan penanaman meliputi beberapa tahap :
Ø  Perencaan (pemilihan jenis), hal ini sangat penting dilakukan untuk menyesuaikan jenis tumbuhan dengan lahan yang akan ditanami agar tujuan awal dari penanaman dapat tercapai dengan baik. Salah satu contohnya yaitu terdapat pada lahan agroforestry yang ada di desa Daenggune kabupaten sigi, kebanyakan masyarakat disana memilih tumbuhan kakao dan kemiri untuk ditanam dalam satu lahan, hal ini menjadi pilihan karena selain tumbuhannya mudah didapatkan, kualitas tanahnya pun masih sangat baik.  
Ø  Persiapan lapangan (penyiapan tapak), pada lahan agroforestry di desa daenggune tidak ada kegiatan persiapan lapangan (penyiapan tapak), lahan hanya diolah sesuai keadaaan tempat yang sudah ada serta batasan yang telah di tentukan oleh masyarakat sekitar.
Ø  Pemasangan ajir, hanya di lakukan pada tanaman semusim seperti tanaman cabai, tomat, paprika maupun tanaman yang merambat seperti timun, kacang panjang, dan lain-lain yang memerlukan ajir sebagai bantuan penyangga tumbuhya. Pada tanaman agroforetry kemiri dan coklat tidak memerlukan ajir sebagai penyangga karena tumbuhan ini tergolong dalam tanaman berkayu.
Ø  Pembuatan lubang tanam, yaitu kegiatan mempersiapkan lubang atau tempat tumbuh tanaman. Dalam pembuatan lubang tidak hanya sekedar menggali tanah, akan tetapi lubang yang dibuat harus disesuaikan dengan jenis tanaman serta ukuran semai yang akan ditanam, hal ini dilakukan agar pertumbuhan dapat berjalan dengan baik. Pada lahan agrofotersty milik salah satu warga yang ada di desa daenggune kabupaten sigi memilih metode penanaman acak, seperti masyarakat awam pada umumnya mereka membuat lubang dengan cara mengira-ngira jarak tanam saja. Ini merupakan cara yang kurang tepat serta menjadi salah satu faktor hasil pemanenan pada tahap akhir kurang maksimal.
Ø  Pengangkutan bibit, banyak cara yang bisa dilakukan dalam mendapatkan bibit dengan kualitas yang baik, salah satunya melihat dari mana bibit itu berasal. Hal ini merupakan langkah yang dilakukan oleh salah satu warga sebagai pengolah lahan dengan sistem agroforestry, beliau memilih mangambil bibit kakao dari desa palolo karena lebih berkualitas dan terawat. Bibit dengan kualitas yang baik tanpa gangguan hama ataupun penyakit maka akan menghasilkan tumbuhan yang baik pula nantinya. Sedangkan bibit kemiri didapatkan dari anakan kemiri yang sudah ada sebelumya yang tumbuh di sekitar pemukiman warga ataupun yang ada di pegunungan.
Ø  Penanaman dan pemeliharaan tanaman muda, untuk menghasilkan tumbuhan dengan kualitas panen yang baik, tentu perlu adanya pemeliharaan. Dalam hal ini yaitu intensitas pemupukan, penyemprotan, serta pembersihan dari tumbuhan semak belukar ataupun gulma yang mengganggu proses pertumbuhan tanaman inti. Pada salah satu lahan agroforestry di desa daenggune menerapkan sistem pemupukan dengan intensitas 1x pemupukan dalam sebulan dan penyemprotan dilakukan dalam 3 bulan sekali.
Ø  Pemeriksaan pekerjaan dan evaluasi penanaman, kegiatan ini dimaksutkan untuk mengetahui keberhasilan penanaman dan untuk menentukan kegiatan penyulaman. Keberhasilan kegiatan dilapangan biasanya dilihat dari persentase kematian/hidup tanaman. Oleh Karen itu perlu adanya penyulaman, yaitu kegiatan penanaman kembali untuk mengganti tanaman pokok yang rusak atau mati sehingga jumlah tanaman per hektar yang tumbuh sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Jika persen tanaman mencapai 100% pada areal tersebut tidak perlu ada sulaman. Namun jika persennya 80%-100% perlu dilakukan sulaman ringan, kemudian pada persen 60%-80% dilakukan sulaman intensif dan dibawah 60% perlu dilakukan penanaman ulang.
Sedangkan pada lahan angroforestry milik salah satu masyarakat yang ada di desa daenggune kabupaten sigi, termasuk dalam pencapaian tanam 100% sehingga tidak ada kegiatan peyulaman didalamnya. Namun tidak dapat dipungkiri, pada beberapa lahan yang lainnya tidak mencapai hasil yang sama. Hal ini biasanya di akibatkan oleh cuaca yang tidak mendukung serta kualitas bibit kurang baik karena proses mendapatkan berbeda-beda.
b)        Pemeliharaan tanaman agroforestry
Ø  Kematian awal tanaman, faktor utama penyebab kematian awal tanaman di lahan agroforestry pada desa Daenggune di sebabkan oleh kondisi cuaca yang ekstrim (kemarau).
Pada tumbuhan kakao ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya;
Pemangkasan, pemangkasan pohon pelindung dilakukan agar dapat berfungsi untuk jangka waktu yang lama. Pemangkasan dilakukan terhadap cabang-cabang yang tumbuh rendah dan lemah. Pohon dipangkas sehingga cabang terendah akan berjarak lebih dari 1 m dari tajuk tanaman kakao. Pemangkasan ini merupakan usaha utnuk meningkatkan produksi dan mempertahankan umur ekonomis tanaman. Dengan pemangkasan maka akan mencegah serangan hama dan penyakit, membentuk tajuk, memelihara tanaman dan mmacu produksi.
Penyiangan, tujuannya adalah untuk mencegah persaingan dalam penyerapan air dan unsurhara serta mencegah hama dan penyakit.
Pemupukan, dilakukan setelah tanaman kakao berumur 2 bulan dilapangan setelah penanaman. Namun, dibeberapa tempat pemberian pupuk dilakukan setiap setelah proses pemanenan seperti yang dilakukan oleh salahsatu narasumber yang ada di desa daenggune.
Penyiraman, tanaman kakao yang tumbuh dengan kondisi tanah yang baik dan memiliki pohon pelindung tidak memerlukan banyak air.  Air yang berlebihan akan menyebabkan kondisi tanah menjadi sangat lembab. Pada kasus sistem agroforestry ini hanya dilakuakan penyiraman pada awal penanaman saja yakni sekitar sebulan setelah ditanam. Karena kondisi lahan yang masih cukup baik maka hal ini dilakukan hanya untuk membantu adaptasi tanaman pada saat dipindahkan dari polibag.
Pemberantasan hama dan penyakit, pemberantasan hama dilakukan dengan pemyemprotan pestisida dengan dua tahap, yaitu tahap pertama untuk pencegahan dan tahap kedua untuk pemberantasan (jika tanaman sudah terjangkit hama/penyakit). Sedangkan pada lahan ini hanya dilakukan peyemprotan selama tiga bulan sekali hanya untuk mencegah datangnaya hama. Kerena bibit awal yang digunakan berkualitas baik maka pada kasus ini tidak diperlukan perlakuan yang intensif.
Sedangkan pada pemeliharaan tanaman kemiri juga meliputi beberapa kegiatan yang hampir sama dengan perlakuan pada tanaman kakao, yaitu penyiraman, pemupukan, pemangkasan, serta pegendalian gulma dan tanaman pengganggu lainnya. Pengendalian gulma dilakukan setiap 3 bulan sekali dengan mencabut atau membongkar tanaman pengganggu tersebut. ketika membersihkan gulma, sekaligus dilakukan pendangiran agar komposisi udara di dalam tanah tetap baik.
Penyiraman, proses ini dilakukan pada saat tanaman kemiri masih muda atau berumur sekitar 0-8 bulan, karena pada masa ini kemiri sangat membutuhkan air yang cukup untuk menyesuaikan serta beradaptasi dengan lahan tumbuhnya.
c)         Pemangkasan tanaman agaroforestry
Ø  Pada tahap pemangkasan dilakukan dengan beberapa kriteria, yaitu pohon yang mempunyai banyak cabang, pohon dengan pemangkasan alami rendan, serta pohon yang akan digunakan untuk kayu pertukangan dan kontruksi struktural. Pada kasus lahan agroforestri didesa daenggune ini pemangkasan hanya dilakukan pada saat tajuk pohon sudah mulai terlihat rapat dan menghalangi intensitas cahaya matahari terhadap tumbuhan dibawahnya. Pemangkasan dilakukan terhadap cabang-cabang pohon yang sudah tua, rusak, lemah, sakit, atau yang lainnya, agar sirkulasi udara dan snar matahari cukup. Namun waktu pemangkasan tidak teratur, hanya menyesuaikan dengan keadaan tanaman.
Ø  Tahap pemanen
Pada tahap ini pemanenan kakao dilakukan dua minggu sekali, namun terkadang pada masa-masa tertentu pemanenan bisa dilakukan hingga 2 bulan sekali, hal ini biasanya di akibatkan oleh cuaca yang kurang baik. Hasil penen kakao yang didapatkan jika keadaan cuaca dan tidak ada serangan hama ataupun penyakit bisa mencapai sekitar 5-6 kg satu kali panen, namun pada saat keadaan tumbuh kurang baik dikarenakan banyaknya gangguan biasanya hasil panen hanya mencapai sekitar 2-3 kg saja. Sedangkan pemanenan kemiri dilakukan sesuai tujuan awal penanaman, pada lahan agroforestri ini pemanenan hanya dilakukan pada buah kemiri saja, yang kemudian dikumpulkan dan dijual di pasar ataupun pengepul buah kemiri. Biasanya sekali panen kemiri dikumpulkan hingga mencapai 10 kg.      
V.      PENUTUP
5.1       Kesimpulan
            Adapun yang dapat disimpulkan dalam laporan ini adalah sebagai berikut :
1.      Agroforestry merupakan cabang ilmu yang dinamis dan sangat baik diterapkan pada masyarakat. Agroforestri juga sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan baru di bidang pertanian dan kehutanan, berupaya mengenali dan mengembangkan keberadaan system agroforestri yang telah dipraktekkan petani sejak dulu kala.
2.      Kemiri adalah tumbuhan yang bijinya dimanfatkan sebagai sumber minyak dan rempah-rempah. Tanaman kakao ini di daerah asalnya yaitu Amerika Selatan, merupakan tanaman kecil yang hidup di kawasan hutan hujan tropis, dan juga tumbuhnya selalu dilindungi oleh pohon – pohon besar. Pemilihan Kemiri dan Kakao dipilih karena dari aspek ekonomi dapat dimanfaatkan dari hasil buah dari kedua tanaman tersebut.
3.      Penanaman merupakan langkah awal dalam suatu proses pengelolaan lahan, hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan hasil dari apa yang ditanam. Kegiatan penanaman meliputi beberapa tahap :
Ø  Perencaan
Ø  Pembuatan Lubang Tanam
Ø  Pengangkutan Bibit
Ø  Pemeriksaan Pekerjaan Dan Evaluasi Penanaman
4.      Kegiatan pemeliharaan terdiri dari pemeliharaan tanaman muda dan pemeliharaan tegakan. Pemeliharaan tanaman muda dilakukan mulai bibit selesai ditanam di lapangan sampai tanaman mencapai kondisi tegakan yaitu keadaan dimana pohon-pohonnya telah saling mempengaruhi satu sama lain, baik tajuk maupun perakarannya (umur 3–5 tahun). Pekerjaan pemeliharaan tanaman muda dapat berupa penyulaman, penyiangan, pendangiran dan pembebasan gulma serta tanaman pengganggu lainnya.
5.      Pemangkasan Tanaman adalah tindakan pembuangan bagian-bagian tanaman seperti cabang atau ranting dengan  mendapatkan bentuk tertentu sehingga dicapai tingkat efisiensi yang tinggi di dalam pemanfaatan cahaya matahari, mempermudah pengendalian hama penyakit serta mempermudah pemanenan.

Dokumentasi





Previous
« Prev Post